Oketrends.com – Pernah merasa kurang baik meski sudah berusaha sekuat tenaga? Perasaan itu bisa muncul sesekali dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kondisi berbeda ketika keraguan tersebut terus muncul dan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya. Situasi seperti itu dapat berkaitan dengan self-esteem.
Self-esteem menggambarkan cara seseorang menilai, menghargai, dan memandang dirinya sendiri. Seseorang dengan self-esteem yang baik biasanya mampu menerima kelebihan serta kekurangannya. Sebaliknya, self-esteem rendah dapat membuat seseorang mudah meragukan kemampuan. Kondisi itu juga dapat memunculkan rasa takut gagal dan kesulitan mengambil keputusan.
Menurut psikolog Morris Rosenberg, self-esteem merupakan evaluasi seseorang terhadap nilai dirinya secara keseluruhan. Penilaian tersebut tidak muncul secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang. Berbagai pengalaman ikut membentuknya, termasuk pola asuh dan lingkungan sosial. Selain itu, hubungan keluarga, pertemanan, kritik, serta pengalaman gagal juga dapat memengaruhinya.
Tanda Self-Esteem yang Rendah
1. Sering Meragukan Kemampuan Diri
Seseorang dengan self-esteem rendah sering merasa dirinya kurang pintar atau kurang berbakat. Mereka juga dapat menganggap dirinya tidak mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik. Padahal, kemampuan tersebut belum tentu lebih rendah daripada kemampuan orang lain. Keraguan itu sering muncul karena mereka terlalu fokus pada kekurangan diri.
Akibatnya, seseorang dapat merasa ragu ketika menerima tanggung jawab baru. Kesempatan berkembang pun terkadang membuat mereka merasa takut. Selain itu, ketakutan terhadap kegagalan dapat mendorong seseorang bertahan di zona nyaman. Akhirnya, mereka lebih memilih menghindari pengalaman baru daripada mengambil kesempatan.
2. Terlalu Sering Membandingkan Diri
Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang cukup umum. Namun, seseorang dengan self-esteem rendah dapat melakukan kebiasaan tersebut secara berlebihan. Ketika melihat pencapaian teman, mereka mungkin merasa dirinya tertinggal. Perasaan itu juga dapat muncul saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik.
Media sosial dapat memperkuat kebiasaan membandingkan diri tersebut. Pengguna biasanya melihat berbagai pencapaian melalui foto atau unggahan orang lain. Padahal, konten tersebut sering hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Karena itu, tampilan media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
3. Sulit Menerima Pujian
Pujian terkadang justru membuat seseorang dengan self-esteem rendah merasa tidak nyaman. Mereka dapat menganggap pujian tersebut tidak tulus atau sekadar basa-basi. Bahkan, sebagian orang langsung merendahkan dirinya setelah menerima apresiasi. Mereka mungkin menganggap pencapaian terjadi karena kebetulan atau bantuan orang lain.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih memperhatikan kritik. Sebaliknya, mereka justru mengabaikan apresiasi yang sudah diterima. Akibatnya, pandangan negatif terhadap diri sendiri semakin kuat. Padahal, seseorang tetap perlu mengakui pencapaian yang berhasil diraihnya.
4. Takut Melakukan Kesalahan
Kesalahan terkadang membuat seseorang langsung menyimpulkan dirinya tidak mampu. Rasa takut tersebut kemudian dapat membuat seseorang menghindari tantangan baru. Mereka juga mungkin menolak kesempatan yang sebenarnya dapat membantu perkembangan diri. Akhirnya, ketakutan terhadap kegagalan membatasi ruang untuk mencoba.
Padahal, seseorang dapat belajar melalui proses mencoba dan melakukan kesalahan. Pengalaman tersebut juga dapat membantu seseorang memahami kemampuan dirinya. Karena itu, kesalahan tidak selalu menunjukkan ketidakmampuan seseorang. Proses tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar dan berkembang.
5. Bergantung pada Penilaian Orang Lain
Seseorang dengan self-esteem rendah sering lebih mempercayai penilaian orang lain. Pujian dapat membuat mereka merasa sangat senang dalam waktu tertentu. Namun, kritik kecil juga dapat menurunkan kepercayaan dirinya secara cepat. Akibatnya, suasana hati mereka mudah berubah mengikuti perlakuan orang lain.
Ketergantungan tersebut membuat seseorang kesulitan menentukan penilaian terhadap dirinya sendiri. Mereka cenderung mencari pengakuan sebelum merasa yakin dengan kemampuannya. Karena itu, komentar orang lain dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Kondisi tersebut juga dapat membuat rasa percaya diri sulit berkembang secara stabil.
Faktor yang Memengaruhi Self-Esteem
Self-esteem dapat terbentuk melalui berbagai pengalaman sepanjang kehidupan seseorang. Pola asuh sejak kecil menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara seseorang mengenali dirinya. Selain itu, kritik dan pengalaman menerima perundungan (bullying) juga dapat memberikan pengaruh. Hubungan keluarga dan lingkungan pertemanan turut berperan dalam pembentukan penilaian diri.
Penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Setiap orang menjalani pengalaman hidup yang berbeda. Karena itu, setiap individu juga memiliki tingkat self-esteem yang tidak selalu sama. Pengalaman tersebut dapat membentuk cara seseorang menilai kemampuan dan nilai dirinya.
Cara Meningkatkan Self-Esteem
1. Kenali Kelebihan dan Kekurangan Diri
Setiap orang memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan masing-masing. Mengenali keduanya dapat membantu seseorang melihat dirinya secara lebih objektif. Dengan begitu, seseorang tidak harus terus merasa lebih rendah daripada orang lain. Pemahaman tersebut juga dapat membantu seseorang menerima dirinya dengan lebih baik.
2. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri
Membandingkan diri terus-menerus dapat membuat seseorang berfokus pada hal yang belum di miliki. Sebaliknya, seseorang dapat memperhatikan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu. Cara tersebut membantu seseorang melihat perubahan yang sudah berhasil di capai. Secara bertahap, kebiasaan itu dapat membantu membangun rasa percaya diri.
3. Berikan Apresiasi kepada Diri Sendiri
Menghargai pencapaian kecil dapat menjadi salah satu cara membangun self-esteem. Menyelesaikan tugas tepat waktu juga termasuk pencapaian yang layak di hargai. Selain itu, keberanian mencoba sesuatu yang baru juga patut mendapatkan apresiasi. Bahkan, berhasil melewati tantangan sehari-hari dapat menjadi alasan untuk menghargai diri.
4. Pilih Lingkungan yang Mendukung
Lingkungan positif dapat membantu seseorang merasa lebih di hargai dan di terima. Sebaliknya, lingkungan yang terus memberikan kritik tanpa dukungan dapat memengaruhi kepercayaan diri. Karena itu, dukungan dari lingkungan dapat membantu seseorang menjalani proses pengembangan diri. Hubungan yang sehat juga dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan?
Rasa kurang percaya diri sesekali merupakan hal yang wajar dalam kehidupan. Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian ketika berlangsung dalam waktu lama. Gangguan terhadap aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial juga perlu menjadi pertimbangan. Kebiasaan terus menyalahkan diri sendiri juga dapat menjadi tanda untuk mencari bantuan.
Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog. Bantuan profesional dapat membantu seseorang memahami penyebab self-esteem yang rendah. Selain itu, psikolog dapat membantu seseorang mempelajari cara membangun penilaian diri yang lebih sehat. Dengan demikian, seseorang dapat memahami dirinya melalui proses yang lebih terarah.
Pada akhirnya, self-esteem memengaruhi cara seseorang menilai dan menghargai dirinya sendiri. Setiap orang dapat mengalami keraguan terhadap kemampuan diri pada situasi tertentu. Namun, seseorang tetap dapat mengenali pola tersebut dan mengambil langkah untuk memperbaikinya. (el/*) Oketrends.com











Komentar