Sungai Eropa Makin Dangkal, Danube Pecahkan Rekor Permukaan Air

Gelombang panas dan minim hujan membuat Danube serta Rhine menyusut hingga mengganggu energi dan pelayaran.

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 14:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

sungai Eropa menyusut (foto : moodjakarta)

sungai Eropa menyusut (foto : moodjakarta)

Oketrends.com — Sejumlah sungai utama Eropa mengalami penyusutan akibat gelombang panas dan minimnya hujan. Bahkan, beberapa wilayah mencatat permukaan air pada titik terendah sepanjang pencatatan. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi energi, transportasi, hingga aktivitas pariwisata.

Citra satelit turut memperlihatkan perubahan kondisi sungai secara jelas. Aliran yang biasanya membelah daratan kini terlihat semakin sempit dari sebelumnya. Sementara itu, tepian sungai yang semula terendam mulai kembali terlihat. Gundukan pasir yang biasanya tertutup air juga muncul ke permukaan.

Menurut laporan detikTravel, kondisi tersebut terlihat mencolok jika dibandingkan dengan situasi pada 2023. Saat itu, debit sejumlah sungai Eropa masih berada dalam kisaran normal. Namun, musim panas ekstrem dan kekeringan panjang terus mengurangi cadangan air. Akibatnya, sungai kesulitan mempertahankan debit seperti sebelumnya.

Eropa sendiri mengalami pemanasan paling cepat dibandingkan benua lain di dunia. Gelombang panas yang berulang membuat kondisi tanah dan sumber air semakin kering. Kemudian, curah hujan yang rendah semakin menghambat pemulihan debit sungai. Kondisi itu akhirnya meningkatkan tekanan terhadap berbagai aktivitas masyarakat.

Danube Mencatat Rekor Baru

Danube menjadi salah satu sungai yang mengalami dampak paling serius. Sungai terpanjang kedua di Eropa tersebut melewati 10 negara sebelum bermuara ke Laut Hitam. Jalurnya membentang mulai dari Jerman hingga kawasan Laut Hitam. Karena itu, perubahan debitnya berdampak pada banyak wilayah.

Di Hungaria, permukaan air Danube bahkan mencatat rekor terendah. Kondisi paling mencolok terjadi di Budapest pada Senin lalu. Ketinggian air sungai hanya mencapai sekitar 10 sentimeter. Angka tersebut memecahkan rekor sebelumnya yang mencapai sekitar 33 sentimeter pada 2018.

Baca Juga :  Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia Usai IPO SpaceX

Kondisi Danube juga berpotensi memburuk karena gelombang panas kembali melanda Eropa Tengah dan Timur. Dampaknya sudah terasa pada sektor energi Hungaria. Pembangkit listrik tenaga nuklir Paks mengandalkan air Danube untuk mendinginkan reaktor. Pembangkit tersebut menyuplai hampir setengah kebutuhan listrik Hungaria.

Rumania juga menghadapi persoalan serupa akibat menyusutnya debit Danube. Angkatan laut negara itu menggunakan bahan peledak untuk memecah batuan. Langkah tersebut bertujuan mengalihkan aliran Danube menuju satu-satunya reaktor yang masih beroperasi. Reaktor tersebut berada di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cernavoda.

Kapal Pesiar dan Angkutan Barang Ikut Terganggu

Penyusutan sungai turut memengaruhi sektor pariwisata dan transportasi Eropa. Sejumlah kapal pesiar sungai harus membatalkan perjalanan atau mengubah rute. Kondisi itu terjadi karena kedalaman air tidak lagi mencukupi untuk pelayaran. Bahkan, sebuah kapal pesiar kandas di gundukan pasir Danube, Bulgaria, pada pekan lalu.

Di sisi lain, surutnya air justru membuka kembali berbagai peninggalan yang sebelumnya tersembunyi. Di Bulgaria, masyarakat menemukan sisa-sisa yang diduga berasal dari mamut purba. Sementara itu, Serbia kembali melihat bangkai kapal perang Nazi yang tenggelam. Permukaan Danube yang turun membuat benda-benda tersebut kembali terlihat.

Namun, persoalan tidak hanya terjadi pada Danube. Sungai Rhine di Jerman juga mengalami penyusutan debit secara signifikan. Rendahnya salju di Pegunungan Alpen saat musim dingin turut memperburuk kondisi tersebut. Selain itu, minimnya hujan dan lima gelombang panas semakin menekan permukaan Rhine.

Dampaknya terasa langsung pada industri pelayaran di sepanjang sungai tersebut. Kapal pengangkut barang harus mengurangi muatan hingga 80 persen. Pengurangan itu bertujuan mencegah kapal kandas pada bagian sungai yang dangkal. Dengan demikian, kondisi air sungai turut menentukan kelancaran distribusi barang.

Baca Juga :  Puluhan Jerigen Solar Digerebek Polisi di Sungai Penuh, Video Viral Jadi Sorotan

Ancaman yang Bisa Berulang

Kondisi sungai utama Eropa tidak hanya menunjukkan persoalan selama musim panas. Para ilmuwan melihat situasi tersebut sebagai bagian dari risiko perubahan iklim. Bahkan, kondisi ekstrem seperti ini berpotensi muncul lebih sering pada masa mendatang. Karena itu, pengelolaan sumber daya air menghadapi tantangan yang semakin besar.

Profesor Ilmu Iklim University of Reading, Richard Allan, menyampaikan peringatan mengenai kondisi tersebut. Menurut Allan, situasi ekstrem saat ini dapat menggambarkan masalah yang lebih besar pada masa depan. Ia menyebut perubahan iklim dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi hidrologi.

“Seiring iklim terus menghangat, kondisi ekstrem hidrologi yang kita alami saat ini mungkin baru merupakan puncak dari masalah yang lebih besar,” ujarnya.

Allan juga menyoroti tantangan pengelolaan sumber daya air pada masa mendatang. “Pengelolaan sumber daya air akan semakin sulit,” jelas Allan. “Satu-satunya cara untuk membatasi kondisi ekstrem ini adalah dengan segera mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh sektor dan mendukung kebijakan jangka panjang, bukan sekadar melakukan penanganan darurat dalam jangka pendek,” lanjutnya.

Sementara itu, sungai yang semakin dangkal menghadirkan persoalan lebih luas bagi Eropa. Masalahnya tidak hanya menyangkut jalur transportasi dan pasokan energi. Kekeringan juga memperlihatkan kerentanan Eropa terhadap perubahan pola iklim. Selain itu, kondisi tersebut menunjukkan semakin terbatasnya ketersediaan sumber daya air. Oketrends.com (el/*)

Berita Terkait

Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Jadi Orang Tertua di Dunia
Perempuan Dunia Berkumpul di Korea Selatan, Bahas Peran Strategis dalam Perdamaian Global
Presiden Prabowo Hadiri Hari Kedua KTT BRICS 2026 di India
Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu
Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?
Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Donasi untuk Unit Stroke
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Dunia, Masih Berani Terbang
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 14:20 WIB

Sungai Eropa Makin Dangkal, Danube Pecahkan Rekor Permukaan Air

Sabtu, 19 September 2026 - 18:33 WIB

Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Jadi Orang Tertua di Dunia

Sabtu, 19 September 2026 - 16:33 WIB

Perempuan Dunia Berkumpul di Korea Selatan, Bahas Peran Strategis dalam Perdamaian Global

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu

Sabtu, 12 September 2026 - 15:40 WIB

Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?

Berita Terbaru

sungai Eropa menyusut (foto : moodjakarta)

Internasional

Sungai Eropa Makin Dangkal, Danube Pecahkan Rekor Permukaan Air

Senin, 21 Sep 2026 - 14:20 WIB

Ethel Caterham orang tertua di dunia (foto : Guinness World Records)

Internasional

Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Jadi Orang Tertua di Dunia

Sabtu, 19 Sep 2026 - 18:33 WIB