10 Kebiasaan Sederhana untuk Membantu Mengurangi Lemak Perut

Ahli nutrisi Shreya Shah membagikan sepuluh kebiasaan harian untuk membantu mengurangi lemak perut.

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kebiasaan mengurangi lemak perut

Kebiasaan mengurangi lemak perut

oketrends.com membagikan informasi mengenai sepuluh kebiasaan sederhana untuk membantu mengurangi lemak perut. Banyak orang mencari cara cepat untuk menurunkan berat badan setiap hari. Namun, berbagai tren diet sering sulit dijalankan secara konsisten. Padahal, seseorang dapat memulai perubahan melalui kebiasaan sederhana.

Ahli nutrisi klinis Shreya Shah membagikan sejumlah kebiasaan tersebut melalui media sosialnya. Hindustan Times kemudian memuat penjelasannya mengenai pola hidup sehari-hari. Shreya menyoroti makanan, aktivitas fisik, stres, alkohol, dan kualitas tidur. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pilihan makanan yang tepat.

1. Kurangi Karbohidrat Olahan dan Camilan Manis

Shreya menyarankan masyarakat mengurangi karbohidrat olahan, termasuk makanan berbahan tepung putih. Selain itu, ia meminta orang membatasi camilan dan minuman manis. Makanan tersebut dapat memicu lonjakan kadar gula darah dalam tubuh. Kondisi itu juga dapat berkontribusi pada makan berlebihan dan obesitas.

Sebagai gantinya, Shreya menyebut beberapa pilihan minuman yang lebih sederhana. Pilihan tersebut meliputi air putih, air kelapa, dan jus lemon buatan sendiri. Ia juga menyebut buttermilk serta air infus dengan mint, lemon, dan buah. Menurutnya, makanan dan minuman manis dapat menambah kalori kosong.

“Minuman dan makanan manis menambah kalori kosong dan menyebabkan penumpukan lemakhttps://oketrends.com/5-makanan-penyebab-kanker-yang-sebaiknya-dibatasi/, terutama di sekitar perut. Anda dapat mengganti minuman ini dengan air putih, air kelapa, jus lemon buatan sendiri, buttermilk, air infus (mint, lemon, dan buah),” kata Shreya.

2. Batasi Makanan Olahan dan Kemasan

Shreya juga meminta orang lebih memperhatikan konsumsi makanan olahan dan makanan kemasan. Menurutnya, kedua jenis makanan tersebut dapat mengandung berbagai unsur yang kurang baik. Selain itu, makanan tersebut kerap memiliki karbohidrat olahan dan gula tambahan. Kandungannya juga dapat mencakup garam berlebih serta lemak jenuh.

Karena itu, Shreya menekankan pentingnya memperhatikan kandungan makanan sebelum mengonsumsinya. Pilihan makanan menjadi bagian penting dalam pola makan sehari-hari. Ia juga menyoroti kombinasi kandungan yang sering terdapat pada makanan olahan. Menurutnya, beberapa kandungan tersebut perlu mendapat perhatian lebih.

“Hal-hal ini cenderung menggabungkan yang terburuk dari yang terburuk dan sering mengandung karbohidrat olahan, gula tambahan, terlalu banyak garam, dan lemak jenuh yang tidak sehat,” katanya.

3. Tambahkan Protein dalam Pola Makan

Protein berperan penting dalam upaya menjaga berat badan dan kesehatan tubuh. Nutrisi ini dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama. Selain itu, protein juga dapat mengurangi keinginan untuk mengonsumsi camilan. Shreya juga mengaitkan protein dengan peningkatan massa otot.

Protein dapat membantu membatasi lonjakan gula darah dalam tubuh. Karena itu, Shreya memasukkan nutrisi tersebut dalam pola makan sehari-hari. Ia menyebut telur, ikan, dan produk susu sebagai beberapa sumber protein. Selain itu, ia memberikan patokan asupan berdasarkan berat badan.

“Anda setidaknya harus menargetkan 0,8-1 gram protein per kilogram berat badan,” katanya.

4. Pilih Sumber Lemak yang Sehat

Kualitas lemak juga perlu mendapat perhatian dalam pola makan sehari-hari. Shreya menyoroti lemak dari minyak olahan dan makanan ultra-proses. Menurutnya, jenis lemak tersebut dapat memberikan dampak kurang baik bagi tubuh. Karena itu, ia menyarankan pilihan sumber lemak yang lebih sehat.

Baca Juga :  Disiplin Anak Sejak Usia 5 Tahun, Kunci Masa Depan Cerah

Shreya menyebut telur utuh, kelapa, alpukat, dan zaitun sebagai beberapa pilihan. Ia juga memasukkan ghee, kacang-kacangan, dan biji-bijian dalam daftar tersebut. Selain itu, makarel dan salmon termasuk contoh ikan berlemak yang disebutkannya. Pilihan itu menjadi bagian dari rekomendasi sumber lemak sehat.

“Anda dapat mengonsumsi lemak sehat yang berasal dari telur utuh, kelapa, alpukat, zaitun, ghee, kacang-kacangan dan biji-bijian, ikan berlemak seperti makarel dan salmon,” ungkapnya.

5. Kenali Sensitivitas terhadap Makanan

Sebagian orang terkadang menginginkan makanan yang justru memicu alergi atau sensitivitas tubuh. Menghindari makanan tersebut memang tidak selalu mudah bagi setiap orang. Namun, Shreya menyebut keinginan tersebut dapat berkurang setelah dua hingga tiga hari. Ia juga menyebut energi dapat meningkat dan gejala dapat mereda.

Menurut Shreya, perubahan tersebut juga dapat menyertai berkurangnya lemak di sekitar perut. Karena itu, seseorang perlu mengenali respons tubuh terhadap makanan tertentu. Selain itu, perhatian terhadap makanan dapat membantu memahami sensitivitas tubuh. Langkah tersebut masuk dalam daftar kebiasaan yang ia bagikan.

6. Lakukan Olahraga Secara Rutin

Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Selain itu, aktivitas tersebut berperan dalam pengelolaan sindrom metabolik. Shreya menyarankan olahraga rutin sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Ia juga memasukkan berjalan kaki sebagai pilihan aktivitas.

Shreya menyarankan seseorang berjalan atau bergerak setiap 45 menit. Selanjutnya, ia merekomendasikan latihan kardio selama 30 sampai 45 menit. Ia juga menyebut latihan kekuatan selama 10 sampai 30 menit. Dengan demikian, seseorang dapat menggabungkan beberapa jenis aktivitas fisik.

7. Bergerak Lebih Banyak

Kurangnya aktivitas fisik memiliki hubungan dengan sindrom metabolik dan diabetes. Sebaliknya, aktivitas fisik memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh. Bergerak lebih banyak dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, kebiasaan tersebut juga dapat membantu proses penurunan berat badan.

Kebiasaan bergerak tidak selalu membutuhkan latihan dengan intensitas berat. Seseorang dapat memulai aktivitas melalui gerakan sederhana sepanjang hari. Shreya sebelumnya juga menyarankan berjalan setiap 45 menit. Karena itu, kebiasaan tersebut dapat mengurangi waktu tanpa aktivitas fisik.

8. Kelola Tingkat Stres

Shreya menyebut stres kronis dapat membuat lemak lebih sulit berkurang. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat membuat ukuran perut bertambah besar. Ia mengaitkan kondisi itu dengan peningkatan hormon stres kortisol secara kronis. Selain itu, peningkatan kortisol dapat memengaruhi gula darah dan kolesterol.

Shreya juga mengaitkan kondisi tersebut dengan depresi, demensia, dan penumpukan lemak perut. Karena itu, pengelolaan stres masuk dalam kebiasaan yang ia sarankan. Stres berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai kondisi dalam tubuh. Pengelolaan stres kemudian melengkapi perhatian terhadap makanan dan aktivitas fisik.

9. Hindari Alkohol

Alkohol dapat menambah lebih banyak kalori daripada perkiraan sebagian orang. Seiring waktu, tambahan kalori tersebut dapat meningkatkan berat badan. Selain itu, penambahan berat badan juga dapat muncul di area perut. Shreya turut menyoroti pengaruh alkohol terhadap pilihan makanan.

Baca Juga :  Kabar Gembira! 196 CPNS Sungai Penuh Segera Terima SK Pengangkatan

Menurut Shreya, konsumsi alkohol yang meningkat dapat mengurangi perhatian seseorang terhadap makanan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong asupan kalori yang lebih tinggi. Karena itu, ia memasukkan alkohol dalam daftar yang perlu mendapat perhatian. Ia menjelaskan pengaruh tersebut melalui pernyataannya.

“Semakin banyak Anda minum, semakin sedikit Anda memperhatikan apa yang Anda makan, yang berpotensi meningkatkan asupan kalori Anda lebih lanjut,” katanya.

10. Tidur yang Cukup

Kurang tidur dapat meningkatkan keinginan seseorang mengonsumsi gula dan karbohidrat. Kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh tidur terhadap hormon nafsu makan. Selain itu, kurang tidur selama satu malam dapat berkontribusi pada resistensi insulin. Karena itu, Shreya memasukkan tidur cukup dalam kebiasaan penting.

Ia juga menyoroti pengaruh kurang tidur terhadap hormon yang mengatur lemak tubuh. Shreya secara khusus menyebut hormon leptin dan ghrelin. Oleh sebab itu, kualitas tidur menjadi bagian dari pola hidup yang ia bahas. Tidur cukup melengkapi perhatian terhadap makanan dan aktivitas fisik.

“Kurang tidur juga berdampak buruk pada hormon pengatur lemak seperti leptin dan ghrelin,” tambahnya.

Secara keseluruhan, sepuluh kebiasaan tersebut mencakup pola makan dan aktivitas fisik sehari-hari. Selain itu, Shreya juga menyoroti pengelolaan stres, alkohol, dan kualitas tidur. Ia turut menekankan pentingnya protein, lemak sehat, serta pembatasan makanan olahan. Rangkaian kebiasaan ini menjadi bagian dari upaya membantu mengurangi lemak perut.

FAQ

Apa kebiasaan yang dapat membantu mengurangi lemak perut?

Shreya Shah menyebut kebiasaan yang berkaitan dengan makanan dan aktivitas fisik. Selain itu, ia menyoroti pentingnya tidur cukup dan pengelolaan stres. Ia juga menyarankan pembatasan makanan olahan, gula, dan alkohol. Protein serta lemak sehat turut masuk dalam pola makan yang dibahas.

Berapa kebutuhan protein yang Shreya Shah sarankan?

Shreya memberikan patokan protein berdasarkan berat badan seseorang. Ia menyarankan sekitar 0,8 hingga 1 gram protein per kilogram berat badan. Selain itu, telur, ikan, dan produk susu dapat menjadi sumber protein. Nutrisi tersebut dapat membantu menjaga rasa kenyang dan mengurangi keinginan ngemil.

Olahraga apa yang Shreya Shah sarankan?

Shreya menyarankan seseorang melakukan aktivitas fisik secara rutin setiap hari. Selain berjalan setiap 45 menit, ia menyebut latihan kardio. Latihan tersebut dapat berlangsung selama 30 sampai 45 menit. Selanjutnya, latihan kekuatan dapat dilakukan selama sekitar 10 sampai 30 menit.

Mengapa tidur cukup perlu mendapat perhatian?

Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan. Selain itu, kondisi tersebut dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi gula dan karbohidrat. Shreya juga menyoroti pengaruhnya terhadap leptin dan ghrelin. Karena itu, ia memasukkan tidur cukup sebagai kebiasaan yang penting.

Informasi ini merangkum kebiasaan yang dibagikan Shreya Shah terkait pola hidup sehari-hari. Namun, setiap kebiasaan tetap berkaitan dengan kondisi dan respons tubuh masing-masing. Karena itu, perhatian terhadap pola makan dan aktivitas tetap menjadi bagian utama. Baca informasi lainnya di oketrends.com (Ell/*).

Berita Terkait

For Revenge Resmi Isi Soundtrack Spider-Man Brand New Day Versi Indonesia, Bawakan Lagu Original
Sinopsis Spider-Man: Brand New Day, Peter Parker Hadapi Hidup Baru Setelah No Way Home
Sinopsis Shine on Me: Perjuangan Cinta Zhao Jinmai dan Song Weilong Bikin Baper
5 Drama Korea Lee Jun Young Rating Tinggi Saat Wamil
3 Film Korea Romantis Terbaik, Temani Akhir Pekanmu
Sinopsis Love’s Ambition, Drama China Romantis Penuh Konflik
Penjualan tiket hari pertama langsung menembus jutaan dolar dan memecahkan rekor awal film Marvel sebelumnya.
Drama Choi Hyun Wook Paling Populer, Sudah Nonton Semua?
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:15 WIB

10 Kebiasaan Sederhana untuk Membantu Mengurangi Lemak Perut

Kamis, 6 Agustus 2026 - 21:16 WIB

For Revenge Resmi Isi Soundtrack Spider-Man Brand New Day Versi Indonesia, Bawakan Lagu Original

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:56 WIB

Sinopsis Spider-Man: Brand New Day, Peter Parker Hadapi Hidup Baru Setelah No Way Home

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Sinopsis Shine on Me: Perjuangan Cinta Zhao Jinmai dan Song Weilong Bikin Baper

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:00 WIB

5 Drama Korea Lee Jun Young Rating Tinggi Saat Wamil

Berita Terbaru

Kebiasaan mengurangi lemak perut

Lifestyle

10 Kebiasaan Sederhana untuk Membantu Mengurangi Lemak Perut

Kamis, 27 Agu 2026 - 10:15 WIB

Banjir bandang perbatasan China Nepal

Internasional

Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:48 WIB

fenomena zero post Gen Z

Teknologi

Kenapa Gen Z Suka Scroll tapi Enggan Posting? Ini Fenomenanya

Minggu, 23 Agu 2026 - 15:00 WIB