Oketrends.com – Lempeng tektonik Australia termasuk salah satu lempeng yang bergerak paling cepat di Bumi. Pergerakannya mencapai sekitar 6,9 sentimeter setiap tahun. Gerakan tersebut ikut memengaruhi sistem navigasi global seperti GPS. Kondisi itu juga membuat ilmuwan menghadapi tantangan saat melacak pergerakan lempeng.
Namun, pergerakan tersebut menyimpan fenomena yang jauh lebih besar. Para geolog menduga Lempeng Indo-Australia mulai mengalami proses pemisahan. Dugaan itu muncul setelah dua gempa besar mengguncang dasar Samudra Hindia pada 2012. Kedua gempa tersebut memberikan petunjuk penting tentang kondisi bagian dalam lempeng.
Gempa Besar Membuka Petunjuk Baru
Gempa pertama mencapai magnitudo 8,6, sedangkan gempa berikutnya mencapai 8,2. Akan tetapi, cara kedua gempa tersebut memecahkan kerak Bumi menarik perhatian ilmuwan. Gempa itu tidak mengikuti pola subduksi yang biasanya terjadi pada batas lempeng. Sebaliknya, retakan justru muncul melalui empat patahan di dalam lempeng.
Salah satu patahan bahkan bergeser secara horizontal hingga hampir 30 meter. Pergerakan sebesar itu tergolong sangat jarang pada patahan yang berada di dalam lempeng. Karena itu, para peneliti melihat kejadian tersebut sebagai fenomena luar biasa. Temuan tersebut kemudian memperkuat dugaan adanya tekanan besar di dalam Lempeng Indo-Australia.
Selama puluhan tahun, peneliti memang mencurigai adanya tekanan internal pada lempeng tersebut. Lempeng Indo-Australia sendiri terbentuk melalui penggabungan dua lempeng kuno. Kini, tekanan internal itu terus meningkat akibat pergerakan wilayah India dan Australia. Kondisi tersebut perlahan mendorong perubahan bentuk pada lempeng.
India dan Australia Bergerak Berlawanan
India terus bergerak menuju Eurasia dan mendorong terbentuknya Pegunungan Himalaya. Sementara itu, Australia bergerak menuju arah timur. Pergerakan yang berlawanan tersebut perlahan memberikan tarikan pada bagian dalam lempeng. Akibatnya, Lempeng Indo-Australia berpotensi mengalami proses pemisahan.
Gempa pada 2012 menjadi salah satu tanda paling dramatis dari proses tersebut. Para ilmuwan menilai kejadian itu dapat menunjukkan perubahan yang berlangsung sangat lambat. Namun, proses pemisahan lempeng tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan tersebut berlangsung dalam skala waktu geologi yang sangat panjang.
Aktivitas Gempa Ikut Berubah
Fenomena lain juga muncul setelah rangkaian gempa besar tersebut. Aktivitas gempa berkekuatan sedang di berbagai wilayah dunia sempat meningkat hingga lima kali tingkat normal. Kondisi tersebut berlangsung setelah peristiwa gempa utama terjadi. Temuan itu mengindikasikan bahwa gempa mungkin mengubah distribusi tekanan pada berbagai wilayah Bumi.
Jika proses pemisahan terus berlangsung, batas lempeng baru dapat terbentuk. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang. Para ilmuwan menilai pembentukan batas tektonik baru jarang terjadi dalam rentang kehidupan manusia. Karena itu, fenomena ini menjadi bagian penting dalam penelitian mengenai perubahan permukaan Bumi.
Bumi Terus Mengubah Peta
Pergerakan benua sebenarnya masih terus berlangsung hingga sekarang. Setiap benua bergerak perlahan akibat dinamika lempeng tektonik. Dalam puluhan juta tahun, pergerakan tersebut dapat mengubah posisi daratan dan lautan. Bahkan, para ilmuwan memproyeksikan terbentuknya kembali sebuah superkontinen pada masa depan.
Afrika, Australia, dan Antarktika menjadi beberapa wilayah yang dapat mengalami perubahan posisi tersebut. Proses itu dapat memengaruhi bentuk daratan, kondisi lautan, dan iklim Bumi dalam jangka sangat panjang. Namun, perubahan tersebut berlangsung jauh di luar skala waktu kehidupan manusia. Dengan demikian, peta Bumi yang kita kenal saat ini tidak akan selalu sama.
Penelitian mengenai lempeng Indo-Australia menunjukkan bahwa Bumi terus mengalami perubahan. Gempa besar 2012 memberikan gambaran tentang tekanan yang bekerja di dalam lempeng. Sementara itu, pergerakan benua terus berlangsung sedikit demi sedikit. Karena itu, perubahan peta Bumi sebenarnya sudah berjalan sejak sekarang, meski berlangsung sangat lambat.
Sumber: Nature (2012), “The 11 April 2012 East Indian Ocean Earthquake Triggered Large Aftershocks Worldwide” dan “En Échelon and Orthogonal Fault Ruptures of the 11 April 2012 Great Intraplate Earthquakes”. Informasi tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai gempa dan dinamika Lempeng Indo-Australia. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana aktivitas tektonik terus membentuk permukaan Bumi. Untuk membaca informasi lainnya, kunjungi Oketrends.com (el/*)











Komentar