Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu

Belasan gigi hiu fosil di Abu-Tartur mengungkap ekosistem laut purba yang kaya nutrisi.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gurun Mesir pernah jadi laut (foto : fixabay)

Gurun Mesir pernah jadi laut (foto : fixabay)

Oketrends.comGurun Mesir ternyata menyimpan jejak kehidupan laut yang berusia puluhan juta tahun. Para paleontolog menemukan kumpulan gigi hiu fosil di Dataran Tinggi Abu-Tartur. Temuan tersebut menunjukkan kawasan itu pernah menjadi bagian dari ekosistem laut yang sangat produktif. Kini, batuan gurun tersebut masih menyimpan rekaman kehidupan laut purba.

Para peneliti menemukan fosil dalam lapisan batuan fosfat Formasi Duwi. Mereka menemukan 14 gigi hiu tambahan yang mewakili lima spesies hiu purba. Setelah menggabungkan temuan sebelumnya, peneliti mencatat sedikitnya tujuh spesies hiu dari lapisan tersebut. Dengan demikian, temuan itu memperluas gambaran kehidupan laut purba di Abu-Tartur.

Paleontolog Tarek Yassin dari Cairo University memimpin penelitian tersebut. Jurnal Cretaceous Research menerbitkan hasil penelitian itu pada 2026. Pada periode Kapur, sekitar 145–66 juta tahun lalu, kondisi Bumi sangat berbeda. Saat itu, permukaan laut jauh lebih tinggi dan laut menutupi sebagian wilayah Afrika Utara.

Abu-Tartur Pernah Menjadi Lingkungan Laut

Pada masa tersebut, Abu-Tartur menjadi bagian dari lingkungan laut yang kaya nutrisi. Endapan fosfat kemudian menjadi salah satu petunjuk penting mengenai tingginya produktivitas laut. Science Alert mengutip penjelasan peneliti mengenai kondisi lingkungan di kawasan tersebut. Mereka menggambarkan Abu-Tartur sebagai ekosistem laut yang sangat produktif.

“Secara keseluruhan, kumpulan ini menunjukkan ekosistem laut dengan produktivitas tinggi dan kaya nutrisi di sepanjang tepi paparan laut yang menghasilkan fosfat,” kata para peneliti seperti dikutip dari Science Alert. Kondisi tersebut membantu menopang rantai makanan laut di wilayah Abu-Tartur. Selain itu, lingkungan kaya nutrisi mendukung keberadaan berbagai predator laut. Hiu menjadi salah satu predator yang memanfaatkan ekosistem tersebut.

Baca Juga :  JPU Banding Putusan Fahruddin, Kasus Bollard Berlanjut

Gigi Hiu Membantu Identifikasi Spesies Purba

Gigi menjadi bagian penting dalam penelitian mengenai hiu purba. Sebab, kerangka hiu tersusun dari tulang rawan yang lebih mudah hancur daripada tulang. Karena itu, peneliti mengandalkan bentuk gigi untuk mengenali berbagai spesies hiu. Dari temuan terbaru, mereka mengidentifikasi lima spesies yang sebelumnya belum tercatat di Abu-Tartur.

Lima spesies tersebut mencakup Cretalamna cf. maroccana dan Scapanorhynchus cf. raphiodon. Peneliti juga mencatat Serratolamna cf. serrata, Squalicorax bassanii, dan Squalicorax pristodontus. Selain itu, dua spesies menjadi catatan baru untuk wilayah Mesir. Kedua spesies tersebut yakni Serratolamna cf. serrata dan Squalicorax bassanii.

Temuan Scapanorhynchus cf. raphiodon juga menarik perhatian peneliti. Spesies tersebut mempunyai gigi panjang dan ramping yang menyerupai jarum. Peneliti menduga temuan tersebut dapat menjadi catatan pertama spesies itu dari Afrika. Selain itu, fosil tersebut termasuk salah satu temuan paling muda untuk kelompok tersebut.

Bukan Bukti Kematian Massal Hiu

Meski menyimpan banyak gigi hiu, peneliti tidak menganggap lokasi itu sebagai tempat kematian massal. Istilah “kuburan hiu” juga tidak berarti tujuh spesies tersebut hidup dan mati bersamaan. Lapisan fosfat Abu-Tartur mengalami sedimentasi yang relatif sedikit. Akibatnya, gigi hiu dari berbagai periode dapat terkumpul dalam satu lapisan batuan.

Karena itu, kumpulan fosil tersebut merekam komunitas laut dari waktu ke waktu. Peneliti tidak menganggap temuan itu sebagai bukti satu peristiwa kematian massal. Sebaliknya, mereka mencari alasan yang menjelaskan banyaknya predator laut di kawasan tersebut. Salah satu dugaan utama berkaitan dengan proses upwelling.

Proses upwelling membawa air laut dari lapisan lebih dalam menuju permukaan. Air tersebut membawa nutrisi yang kemudian mendukung pertumbuhan plankton. Selanjutnya, plankton menjadi sumber makanan bagi ikan kecil dan berbagai invertebrata. Rantai makanan itu kemudian menyediakan sumber makanan bagi predator yang lebih besar, termasuk hiu.

Baca Juga :  Qatar Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026 Usai Tahan Swiss

Fosil Mengungkap Perbedaan Habitat

Keberadaan beberapa jenis hiu juga memberi petunjuk mengenai perbedaan relung ekologis. Peneliti menyebut Squalicorax dapat menunjukkan lingkungan perairan dangkal atau kawasan dekat pantai. Sementara itu, Scapanorhynchus lebih berkaitan dengan kondisi perairan yang lebih dalam. Perbedaan tersebut membantu peneliti memahami variasi lingkungan laut Abu-Tartur.

Dengan demikian, setiap gigi fosil memberikan informasi mengenai rantai makanan dan kondisi laut purba. Selama jutaan tahun, bentang alam kawasan tersebut mengalami perubahan besar. Laut Tethys kemudian menghilang dan dasar laut berubah menjadi daratan. Setelah itu, wilayah tersebut berkembang menjadi lingkungan gurun yang kita kenal sekarang.

Meski lingkungan berubah, batuan tetap menyimpan bukti kehidupan masa lalu. Gigi hiu menjadi salah satu rekaman penting mengenai perubahan tersebut. Temuan Abu-Tartur menunjukkan bahwa Gurun Mesir pernah menjadi kawasan laut yang kaya kehidupan. Bagi ilmuwan, setiap fosil membantu merekonstruksi kondisi laut dan rantai makanan purba.

Selain itu, bentuk serta jenis gigi membantu peneliti memahami ekosistem Afrika Utara jutaan tahun lalu. Fosil tersebut juga memperlihatkan perubahan lingkungan yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Dahulu, laut menopang berbagai kehidupan di wilayah tersebut. Kini, kawasan itu berubah menjadi gurun yang menyimpan jejak dunia laut purba. Informasi selengkapnya dapat ditemukan melalui Oketrends.com (el/*)

Berita Terkait

Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?
Mitos atau Fakta, Kucing Bisa Prediksi Cuaca? Sains Ungkap Jawabannya
Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal
Tau Gak Sih? Kecoa Langsung Bersihkan Diri Usai Sentuh Kulit Manusia
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Donasi untuk Unit Stroke
Mom, How Do I? Kanal Robyn yang Jadi Teman Belajar Tanpa Sosok Ibu
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Dunia, Masih Berani Terbang
Laba Ferrari Naik Meski Penjualan Mobil Turun, Ini Strategi yang Bikin Investor Terkesan
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu

Sabtu, 12 September 2026 - 15:40 WIB

Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?

Sabtu, 12 September 2026 - 13:40 WIB

Mitos atau Fakta, Kucing Bisa Prediksi Cuaca? Sains Ungkap Jawabannya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:48 WIB

Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Tau Gak Sih? Kecoa Langsung Bersihkan Diri Usai Sentuh Kulit Manusia

Berita Terbaru