OKETRENDS.COM, ANKARA – Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendekati Suriah di nilai bukan sekadar memperbaiki hubungan diplomatik. Sejumlah analis menilai strategi tersebut berkaitan dengan upaya Washington menyiapkan Suriah sebagai alternatif Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia yang kerap terganggu akibat ketegangan dengan Iran.
Laporan The Telegraph menyebut strategi ini semakin terlihat setelah gencatan senjata antara AS dan Iran kembali runtuh usai serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat Washington mulai mencari jalur distribusi energi yang lebih aman.
Trump Temui Ahmed Al-Sharaa di KTT NATO
Trump bertemu Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa di sela-sela KTT NATO di Turkiye pada Rabu (8/7/2026). Dalam pertemuan itu, Trump memuji Al-Sharaa karena di nilai berhasil menyatukan Suriah.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menghapus Suriah dari daftar negara sponsor terorisme. Keputusan itu melanjutkan kebijakan sebelumnya yang telah mencabut berbagai sanksi terhadap negara tersebut.
Trump juga menyatakan perusahaan-perusahaan AS siap menanamkan investasi di Suriah, terutama pada sektor minyak, gas, listrik, dan perbankan.
Suriah Di nilai Punya Posisi Strategis
Menurut analisis The Telegraph, langkah itu membuka peluang bagi Suriah menjadi koridor perdagangan energi baru yang menghubungkan negara-negara Teluk dengan kawasan Mediterania.
Secara geografis, Suriah memiliki garis pantai panjang di Laut Mediterania serta berbatasan langsung dengan sejumlah negara di Timur Tengah. Posisi ini memungkinkan minyak dan gas di alirkan melalui jalur darat maupun jaringan pipa menuju pelabuhan Suriah sebelum dikirim ke Eropa dan wilayah lain menggunakan kapal.
Jika proyek tersebut terwujud, sebagian ekspor energi dunia tidak lagi harus melewati Selat Hormuz.
Bagi Amerika Serikat dan negara-negara mitranya, jalur alternatif ini berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi energi sekaligus menekan pengaruh Iran yang selama ini kerap menggunakan ancaman terhadap kapal dagang di Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
Pipa Energi Teluk Mulai Dipertimbangkan
Rencana pembangunan jaringan pipa juga mulai di bahas. Jalur tersebut di proyeksikan menghubungkan produsen energi utama di Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar, menuju pelabuhan Baniyas serta Latakia di Suriah.
Apabila proyek berjalan sesuai rencana, Suriah bisa menjadi penghubung penting bagi distribusi minyak dan gas menuju pasar internasional.
Potensinya Besar, Tapi Jalannya Tidak Mudah
Analis senior Karam Shaar Advisory, Mouayad Albonni, menilai Suriah memang memiliki peluang menjadi alternatif Selat Hormuz. Namun, ia mengingatkan bahwa realisasinya masih menghadapi banyak tantangan.
“Jika seluruh faktor risikonya diabaikan, Suriah memang bisa dipertimbangkan sebagai alternatif Selat Hormuz. Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu, meski ini tetap menjadi peluang yang baik bagi Suriah,” ujarnya.
Selain posisi geografis yang strategis, Suriah memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 2,5 miliar barrel. Sejumlah perkiraan bahkan menyebut potensinya dapat mencapai 27 miliar barrel jika mencakup wilayah lepas pantai.
Model distribusi energi melalui Suriah juga bukan hal baru. Irak sebelumnya di ketahui mengirim sekitar 200 ribu barrel minyak per hari melalui jalur darat Suriah, meski masih jauh di bawah sekitar empat juta barrel per hari yang pernah di ekspor lewat pelabuhan negara itu sebelum perang pecah.
Masalah Keamanan Masih Jadi Tantangan
Meski memiliki potensi besar, kondisi keamanan Suriah masih menjadi hambatan utama.
Kelompok-kelompok bersenjata masih aktif di beberapa wilayah. Pada awal Juni lalu, sebuah truk tangki bahan bakar asal Irak di laporkan di serang saat melintas di wilayah utara Suriah.
Di sisi lain, sistem keuangan dan perbankan Suriah juga belum sepenuhnya pulih setelah puluhan tahun menghadapi sanksi internasional. Kondisi tersebut membuat transaksi lintas negara masih rumit dan memunculkan kekhawatiran terkait pengawasan arus dana serta pencegahan pencucian uang.
Pengaruh Rusia dan Sikap Negara Teluk Jadi Faktor Penentu
Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah kehadiran Rusia di Suriah. Moskwa masih mempertahankan aktivitas militer maupun bisnis di negara tersebut.
Reuters melaporkan pusat logistik komersial di Pelabuhan Tartus di jadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan Juli. Fasilitas itu akan menangani distribusi barang-barang Rusia sekaligus menghubungkan pesisir Suriah dengan Pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam.
Menurut Albonni, tantangan terbesar justru berasal dari dinamika geopolitik kawasan. Negara-negara Teluk di perkirakan tidak akan mudah memberikan kendali besar kepada Suriah atas jalur ekspor minyak mereka karena komoditas tersebut merupakan aset strategis bagi perekonomian masing-masing negara.
Investasi Mulai Berdatangan
Meski begitu, minat investor mulai terlihat.
Pada Februari lalu, Chevron menandatangani kesepakatan dengan perusahaan minyak milik negara Suriah untuk mengembangkan ladang minyak dan gas lepas pantai pertama di negara tersebut.
Selain itu, perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat dan Arab Saudi juga membentuk konsorsium untuk mengeksplorasi potensi minyak dan gas di wilayah timur laut Suriah.
Albonni menilai meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz menjadi alasan utama mengapa banyak pihak mulai melirik Suriah sebagai pusat perdagangan energi baru.
“Suriah harus benar-benar stabil agar dapat menjadi jalur yang aman,” tutupnya.











Komentar