OKETRENDS.COM – Usia terbaik program bayi tabung menjadi salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan kehamilan. Meski teknologi fertilitas terus berkembang, peluang keberhasilan program in vitro fertilization (IVF) tetap sangat di pengaruhi oleh usia calon ibu saat memulai program.
Karena itu, para ahli mengingatkan pasangan yang berencana memiliki anak agar tidak menunda program bayi tabung hingga usia terlalu matang. Semakin cepat di lakukan pada usia yang tepat, semakin besar pula peluang keberhasilannya.
Program bayi tabung merupakan metode pembuahan berbantu dengan mengambil sel telur dari ovarium untuk di buahi oleh sperma di laboratorium. Setelah embrio terbentuk, dokter akan menanamkannya kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan.
Dokter Sarankan Jalani IVF Sebelum Usia 35 Tahun
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Morula IVF, Ivan Rizal Sini, menjelaskan bahwa teknologi memang mampu meningkatkan kualitas layanan IVF. Namun, usia perempuan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi peluang keberhasilan.
“Yang perlu kita edukasi adalah apa yang mereka lakukan sangat tergantung pada usia perempuannya,” ujar Ivan dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, perempuan yang menjalani program bayi tabung pada usia lebih muda memiliki peluang hamil yang lebih tinggi di bandingkan mereka yang baru memulai program saat berusia 40 tahun atau lebih.
Menurut Ivan, waktu terbaik menjalani program IVF adalah sebelum usia 35 tahun. Pada rentang usia tersebut, jumlah dan kualitas cadangan sel telur umumnya masih berada dalam kondisi yang baik.
“Pasien datang di usia lebih muda angka keberhasilannya lebih tinggi di bandingkan kalau dia tertunda di usia 40 atau lebih dari itu. Baiknya datang saat usia di bawah 35 tahun karena jumlah cadangan telurnya masih bagus,” katanya.
Tingkat Keberhasilan IVF Bisa Mencapai 60 Persen
Ivan mengungkapkan, tingkat keberhasilan program bayi tabung di Morula IVF Indonesia saat ini berada pada kisaran 50 hingga 60 persen. Bahkan, pada perempuan yang berusia di bawah 35 tahun, peluang keberhasilannya dapat mencapai sekitar 60 persen.
Ia menambahkan bahwa angka tersebut sejalan dengan standar keberhasilan IVF yang diterapkan secara global, termasuk di Australia, Amerika Serikat, dan kawasan Asia Pasifik.
“Ada standar global, ada standar di Australia, Asia Pasifik, dan Amerika. Sampai saat ini standar global itu bervariasi dari 50 sampai 60 persen. Di bawah usia 35 tahun itu sekitar 60 persen,” ujarnya.
Meski begitu, peluang keberhasilan setiap pasien tidak selalu sama. Kondisi kesehatan, penyebab infertilitas, kualitas sel telur, hingga kualitas embrio menjadi faktor lain yang turut memengaruhi hasil program.
Teknologi PGT-A Tingkatkan Peluang Kehamilan
Selain usia, kemajuan teknologi reproduksi juga memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan program bayi tabung. Salah satu inovasi yang kini banyak digunakan adalah Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A).
PGT-A merupakan metode skrining kromosom pada embrio sebelum proses transfer ke dalam rahim. Pemeriksaan ini membantu dokter memilih embrio dengan susunan kromosom yang normal sehingga peluang implantasi dan kehamilan menjadi lebih tinggi.
Dengan proses seleksi tersebut, risiko kegagalan akibat kelainan kromosom dapat ditekan karena embrio yang ditanamkan telah melewati pemeriksaan genetik.
“Kalau mengikuti program PGT-A, embrionya dicek dulu sebelum kita tanamkan. Kemampuan untuk kehamilan per transfernya bisa lebih tinggi, sekitar 70 persen karena embrionya sudah terseleksi secara kromosom. Kalau yang biasa tidak cek kromosomnya,” kata Ivan.
Morula IVF Siapkan Klinik Fertilitas Baru di BSD
Sebagai bagian dari upaya memperluas layanan fertilitas berstandar internasional, Morula IVF Indonesia akan membuka Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di kawasan Biomedica Campus, BSD City, Tangerang.
Klinik tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada September 2026. Nantinya, fasilitas itu akan menyediakan layanan yang lebih lengkap, mulai dari konsultasi, pemeriksaan, diagnosis, hingga program bayi tabung dengan pendekatan yang lebih personal dan berbasis bukti ilmiah.
“Kami ingin menghadirkan ekosistem layanan yang lebih komprehensif, mulai dari konsultasi, diagnosis, hingga program IVF dengan pendekatan yang personal dan berbasis bukti ilmiah. Harapannya, semakin banyak pasangan Indonesia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan impian menjadi orang tua,” ujar Ivan.
Mengapa Tidak Sebaiknya Menunda Program Bayi Tabung?
Keputusan menjalani program bayi tabung sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kesiapan finansial, tetapi juga kondisi biologis. Seiring bertambahnya usia, kualitas dan jumlah sel telur akan terus menurun sehingga peluang keberhasilan IVF ikut berkurang.
Karena itu, berkonsultasi lebih awal dengan dokter spesialis fertilitas dapat membantu pasangan menentukan waktu terbaik menjalani program sesuai kondisi kesehatan masing-masing. Dengan dukungan teknologi modern dan penanganan yang tepat, peluang untuk memperoleh kehamilan pun menjadi lebih besar. (el/*)











Komentar