Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal

Banjir bandang menewaskan 157 orang dan membuat lebih dari 400 wisatawan hilang.

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir bandang perbatasan China Nepal

Banjir bandang perbatasan China Nepal

Oketrends.com – Bencana besar menerjang perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Namun, pembaca juga dapat mengikuti informasi terkini melalui Oketrends.com. Lumpur, batu, dan air kemudian menghantam sejumlah kawasan setelah material besar longsor ke sungai. Akibatnya, banjir bandang menewaskan sedikitnya 157 orang dan membuat ratusan wisatawan hilang.

Video terverifikasi memperlihatkan puluhan orang terseret arus deras di kawasan perbatasan. Sementara itu, otoritas dari kedua negara memperkirakan jumlah korban masih dapat bertambah. Selain korban jiwa, bencana tersebut juga menghancurkan banyak infrastruktur dan permukiman. Karena itu, petugas terus memperluas operasi pencarian hingga malam hari.

Lumpur Besar Menerjang Rumah Warga

Di Nepal, banjir dan longsor menyapu rumah, jalan, serta proyek pembangkit listrik. Sementara itu, pejabat di Tibet memperingatkan kemungkinan banyak korban setelah longsoran menghantam jalur perlintasan Gyirong. Kondisi tersebut membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat. Selain itu, petugas menghadapi medan berat selama proses penyelamatan.

Keshav Prasad Baral, penyintas berusia 68 tahun, menceritakan saat lumpur menerjang rumahnya secara tiba-tiba. Ketika menjalani perawatan, Baral mengatakan istrinya terseret material longsor tersebut. Ia berusaha menyelamatkan istrinya sebelum aliran lumpur semakin tinggi. Namun, arus besar akhirnya memisahkan keduanya.

“Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar yang langsung mengarah ke kami. Ketika semakin dekat, aliran itu terus naik semakin tinggi. Ketika saya melihat lumpur masuk ke rumah kami, saya mencoba meraih tangan istri saya dan membawanya ke teras. Namun, dia tersapu lumpur,” kata Baral, dilansir Reuters.

Baral mengatakan sebuah helikopter datang sekitar empat atau lima jam kemudian. Helikopter tersebut kemudian mengevakuasinya dari lokasi bencana. Namun, istrinya masih berada di bawah tumpukan lumpur. “Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia sudah pergi.”

Penyintas lain berhasil selamat dengan berpegangan pada sebuah pohon mangga. Dari tempat itu, ia melihat rumah tempatnya bekerja menghilang diterjang bencana. Sementara itu, material lumpur terus menyapu kawasan di sekitarnya. Kesaksiannya menggambarkan cepatnya perubahan situasi di lokasi tersebut.

Gempa Diduga Memicu Runtuhnya Gletser

Hingga kini, otoritas masih menyelidiki penyebab pasti bencana tersebut. Namun, laporan awal pejabat Nepal menyebut gempa mungkin memicu runtuhnya bagian bawah gletser. Peristiwa itu kemudian diduga memicu banjir besar. Selain itu, material longsoran turut memperparah derasnya aliran sungai.

Baca Juga :  3 Gempa Besar Hantam Tiga Negara dalam 12 Jam, Benarkah Saling Berkaitan?

Ketika malam tiba, petugas terus mencari korban dan mengevakuasi jenazah dari kawasan terdampak. Tim juga berusaha mengidentifikasi korban yang telah ditemukan. Polisi Nepal mencatat 157 jenazah hingga Rabu malam waktu setempat. Sementara itu, angka tersebut masih berpotensi berubah.

Pejabat Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan lebih dari 400 wisatawan masih hilang. Dari jumlah itu, sekitar 340 orang merupakan warga negara asing. Sunil Sharma dari Nepal Tourism Board menyebut 133 wisatawan India termasuk dalam daftar tersebut. Mereka tengah melakukan perjalanan ziarah di kawasan tersebut.

Selain warga India, petugas juga mencatat wisatawan dari sejumlah negara lain. Sebanyak 47 orang berasal dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, dan 33 dari Inggris. Selain itu, 24 wisatawan Kanada juga belum ditemukan. Pemerintah masing-masing negara terus memantau kondisi warganya.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pemerintah terus mengikuti situasi warga Amerika yang terdampak. Kanada juga memantau perkembangan bencana tersebut secara intensif. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut banjir itu sebagai bencana yang “benar-benar menghancurkan.” Sementara itu, operasi pencarian masih terus berlangsung.

Kawasan terdampak berada di jalur populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet. Setiap tahun, ratusan umat Hindu dari India dan negara lain mengunjungi wilayah tersebut. Mereka melakukan perjalanan ziarah, terutama pada periode seperti sekarang. Karena itu, hilangnya banyak wisatawan langsung menjadi perhatian internasional.

Ratusan Orang Masih Hilang di Sisi China

Di sisi China, Xinhua melaporkan tiga orang meninggal di Gyirong. Selain itu, 265 orang masih belum ditemukan hingga laporan tersebut muncul. Namun, otoritas masih memverifikasi jumlah korban secara menyeluruh. Tim penyelamat juga terus melakukan pencarian di kawasan terdampak.

Korea Selatan secara terpisah melaporkan delapan warganya juga hilang. Kedelapan orang itu bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga air. Lokasi proyek tersebut berada di kawasan yang terdampak bencana. Karena itu, petugas juga menelusuri area sekitar fasilitas tersebut.

Rekaman CCTV Perlihatkan Warga Berlarian

Rekaman kamera keamanan dari sisi China memperlihatkan warga berusaha menyelamatkan diri. Beberapa orang berlari sebelum gelombang batu, lumpur, dan air menghancurkan bangunan. Arus tersebut juga menyeret kendaraan serta sejumlah korban. Rekaman itu memperlihatkan situasi panik beberapa saat sebelum bencana melanda.

Pusat Penelitian Geosains Jerman mencatat gempa berkekuatan 4,4 magnitudo di kawasan tersebut. Gempa itu terjadi sekitar tujuh menit sebelum waktu pada rekaman kamera keamanan. Temuan tersebut kemudian memperkuat dugaan hubungan antara aktivitas gempa dan bencana. Namun, penyelidikan resmi masih terus berjalan.

Baca Juga :  Pentingnya Disiplin Anak Sejak Usia 5 Tahun

Di Nuwakot dan Dhading, warga berkumpul di luar pusat pelatihan militer Nepal. Fasilitas itu kemudian menjadi salah satu pangkalan operasi penyelamatan menggunakan helikopter. Banyak warga datang untuk mencari kabar anggota keluarga yang belum ditemukan. Sementara itu, suasana duka menyelimuti kawasan tersebut.

Polisi mencatat nama warga hilang di luar gerbang barak. Namun, kerusakan pembangkit listrik membuat sebagian wilayah masih tanpa aliran listrik. Karena itu, polisi menggunakan cahaya telepon seluler saat mencatat laporan warga. Kondisi tersebut turut memperlihatkan luasnya dampak kerusakan.

Rumah, pepohonan, dan kendaraan tampak terendam atau tertimbun material longsor. Sementara itu, helikopter terus beroperasi sepanjang hari untuk mengevakuasi penyintas. Tim penyelamat membawa warga keluar dari kawasan yang sulit dijangkau. Namun, kondisi cuaca dan medan terus menyulitkan operasi.

Analisis awal citra satelit Planet Labs menunjukkan kemungkinan longsoran es dan batu memicu banjir. Material tersebut kemudian membawa debris dalam jumlah besar ke Sungai Lhende. Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal juga memberikan lokasi kejadian. Kawasan itu berada sekitar 20 kilometer dari timur laut Rasuwagadhi.

Namun, helikopter penyelamat belum dapat mendarat di Syapru Besi dan Timure, Kabupaten Rasuwa. Kawasan pegunungan itu dihuni sekitar 50.000 orang. Pejabat mengatakan sungai yang meluap di atas jalur normal memperumit penyelamatan. Karena itu, petugas terus mencari alternatif untuk menjangkau wilayah terdampak.

Rekaman televisi memperlihatkan rumah runtuh dan mobil hanyut akibat arus deras. Sebuah jembatan logam juga tersapu banjir dalam bencana tersebut. Sementara itu, saksi mata mengatakan air telah menenggelamkan seluruh permukiman. Kerusakan terlihat di berbagai titik kawasan perbatasan.

“Ada kehancuran di mana-mana yang kami lihat,” kata Tula Bahadur BK, pekerja kesehatan di Rasuwa, kepada Reuters.

“Permukiman di sebelah sungai telah tersapu sepenuhnya. Lima kerabat saya sendiri masih hilang.”

Hingga kini, tim penyelamat terus mencari korban di tengah medan yang sulit. Otoritas juga masih memverifikasi jumlah korban dan warga yang hilang. Sementara itu, keluarga korban menunggu kabar dari lokasi operasi penyelamatan. Perkembangan terbaru bencana ini dapat mengikuti Oketrends.com (Ell/*).

Berita Terkait

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Donasi untuk Unit Stroke
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Dunia, Masih Berani Terbang
Laba Ferrari Naik Meski Penjualan Mobil Turun, Ini Strategi yang Bikin Investor Terkesan
Mobil BYD Murah karena Subsidi China? Begini Penjelasan Resmi dan Fakta Investigasi Uni Eropa
China Terapkan Aturan Keras, Keluarga Pejabat Dilarang Berbisnis di Wilayah Kekuasaan
Gerhana Matahari Total 2026 Bisa Dilihat di Indonesia? Faktanya
Teknologi Canggih China Evakuasi Korban Banjir Bandang
Trump Atur Strategi Baru, Dekati Suriah untuk Jalur Baru Gantikan Hormuz!
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:48 WIB

Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:08 WIB

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Donasi untuk Unit Stroke

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Dunia, Masih Berani Terbang

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Laba Ferrari Naik Meski Penjualan Mobil Turun, Ini Strategi yang Bikin Investor Terkesan

Senin, 3 Agustus 2026 - 16:28 WIB

Mobil BYD Murah karena Subsidi China? Begini Penjelasan Resmi dan Fakta Investigasi Uni Eropa

Berita Terbaru

Kebiasaan mengurangi lemak perut

Lifestyle

10 Kebiasaan Sederhana untuk Membantu Mengurangi Lemak Perut

Kamis, 27 Agu 2026 - 10:15 WIB

Banjir bandang perbatasan China Nepal

Internasional

Detik-Detik Horor Banjir Bandang Sapu China-Nepal

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:48 WIB

fenomena zero post Gen Z

Teknologi

Kenapa Gen Z Suka Scroll tapi Enggan Posting? Ini Fenomenanya

Minggu, 23 Agu 2026 - 15:00 WIB