Desa Nagoro Jepang Dihuni 350 Boneka, Ini Kisahnya

Krisis Populasi, Desa Terpencil di Jepang Berubah Jadi Kampung Boneka

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:25 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Desa Nagoro Jepang dihuni boneka

Desa Nagoro Jepang dihuni boneka

Awalnya terlihat seperti desa yang menyeramkan, ternyata ada kisah menyedihkan di balik nya

OKETRENDS.COM – Desa Nagoro (Desa Boneka) di Pulau Shikoku, Jepang, terkenal karena jumlah bonekanya (sekitar 350 buah) yang jauh melampaui jumlah penduduk aslinya yang kini kurang dari 30 orang. Boneka seukuran manusia ini di buat oleh Tsukimi Ayano untuk menggantikan warga yang telah pergi atau meninggal akibat urbanisasi.

Tsukimi Ayano kembali ke kampung halamannya di Desa Nagoro setelah bertahun-tahun menetap di Osaka. Saat kembali, ia mendapati kondisi desa berubah drastis. Nagoro yang sebelumnya di huni lebih dari 300 orang hanya menyisakan sekitar 35 penduduk. Banyak warga telah meninggal dunia, sementara sebagian lainnya memilih meninggalkan desa untuk mencari kehidupan di kota.

Padahal dahulu desa ini ramai dihuni oleh ratusan warga. Namun seiring waktu banyak penduduk yang pindah ke kota. Selain itu banyak juga warga yang sudah meninggal karena usia.

Baca Juga :  10 Ucapan Hari Anak Nasional 2026 yang Menyentuh Hati

Dilansir dari situs National Geographic yang tayang pada 2017

Awalnya Tsukimi Ayano membuat boneka hanya untuk mengenang ayahnya yang telah berpulang. Namun lama kelamaan ia tergerak hati untuk membuat boneka untuk mengenang hampir semua warga yang telah pergi.

Fakta dan Lokasi Nagoro

  • Lokasi: Terletak di Lembah Iya yang terpencil, Prefektur Tokushima, Pulau Shikoku.
  • Perbandingan Populasi: Jumlah boneka melebihi jumlah manusia dengan perbandingan lebih dari 10 banding 1
  • Aktivitas Boneka: Boneka-boneka tersebut di letakkan di berbagai sudut desa untuk menyerupai kehidupan sehari-hari, seperti petani menunggu bus, nelayan, dan murid-murid di sekolah.
  • Aksesibilitas: Karena lokasinya yang berada di daerah pegunungan, tempat ini cukup sulit di jangkau. Di sarankan untuk menyewa mobil agar lebih leluasa mengeksplorasi rute menuju wilayah ini.

Sekolah Dasar di Nagoro Tidak lagi memiliki murid

Sekolah dasar di nagoro tidak memiliki murid akan tetapi kelasnya masih penuh oleh siswa boneka. Boneka-boneka itu duduk rapi di banku, seolah olah mereka masih menunggu pelajaran di mulai.

Baca Juga :  Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?

Boneka-boneka itu di letakkan di teras rumah kosong, di bangunan yang sudah lama terbengkalai, hingga di berbagai area publik sebagai bentuk penghormatan kepada warga yang telah tiada atau meninggalkan Nagoro.

Ayano mengaku setiap boneka dibuat sambil membayangkan sosok asli orang yang diwakilinya ketika masih hidup dan dalam kondisi sehat. Baginya, boneka-boneka tersebut memiliki arti yang sangat personal dan ia menganggapnya seperti anak-anaknya sendiri.

Banyak dikunjungi wisatawan

Wisatawan datang karena merasa seperti memasuki dunia yang berhenti oleh waktu. Di setiap sudut desa, boneka-boneka itu seakan menjadi pengingat bahwa pernah ada kehidupan yang begitu ramai di tempat tersebut. Kini, Desa Nagoro di kenal luas sebagai “kampung boneka” yang menarik perhatian wisatawan sekaligus menjadi simbol bagaimana sebuah komunitas berusaha menjaga kenangan akan para warganya di tengah ancaman menjadi desa mati. (ell/wz)

Berita Terkait

Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu
Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?
Mitos atau Fakta, Kucing Bisa Prediksi Cuaca? Sains Ungkap Jawabannya
Tau Gak Sih? Kecoa Langsung Bersihkan Diri Usai Sentuh Kulit Manusia
Mom, How Do I? Kanal Robyn yang Jadi Teman Belajar Tanpa Sosok Ibu
Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Masih Dibuka, Ini Cara Daftar dan Cek Kampus Penerimanya
Buku Langka Dimusnahkan demi AI, Mengapa Praktik Ini Tuai Kontroversi?
Usia Terbaik Program Bayi Tabung, Jangan Tunggu Terlambat
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

Gurun Mesir Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Kehidupan Puluhan Juta Tahun Lalu

Sabtu, 12 September 2026 - 15:40 WIB

Benua Australia Bergerak Cepat, Benarkah Lempeng Indo-Australia Mulai Terbelah?

Sabtu, 12 September 2026 - 13:40 WIB

Mitos atau Fakta, Kucing Bisa Prediksi Cuaca? Sains Ungkap Jawabannya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Tau Gak Sih? Kecoa Langsung Bersihkan Diri Usai Sentuh Kulit Manusia

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:16 WIB

Mom, How Do I? Kanal Robyn yang Jadi Teman Belajar Tanpa Sosok Ibu

Berita Terbaru