Awalnya terlihat seperti desa yang menyeramkan, ternyata ada kisah menyedihkan di balik nya
OKETRENDS.COM – Desa Nagoro (Desa Boneka) di Pulau Shikoku, Jepang, terkenal karena jumlah bonekanya (sekitar 350 buah) yang jauh melampaui jumlah penduduk aslinya yang kini kurang dari 30 orang. Boneka seukuran manusia ini di buat oleh Tsukimi Ayano untuk menggantikan warga yang telah pergi atau meninggal akibat urbanisasi.
Tsukimi Ayano kembali ke kampung halamannya di Desa Nagoro setelah bertahun-tahun menetap di Osaka. Saat kembali, ia mendapati kondisi desa berubah drastis. Nagoro yang sebelumnya di huni lebih dari 300 orang hanya menyisakan sekitar 35 penduduk. Banyak warga telah meninggal dunia, sementara sebagian lainnya memilih meninggalkan desa untuk mencari kehidupan di kota.
Padahal dahulu desa ini ramai dihuni oleh ratusan warga. Namun seiring waktu banyak penduduk yang pindah ke kota. Selain itu banyak juga warga yang sudah meninggal karena usia.
Dilansir dari situs National Geographic yang tayang pada 2017
Awalnya Tsukimi Ayano membuat boneka hanya untuk mengenang ayahnya yang telah berpulang. Namun lama kelamaan ia tergerak hati untuk membuat boneka untuk mengenang hampir semua warga yang telah pergi.
Fakta dan Lokasi Nagoro
- Lokasi: Terletak di Lembah Iya yang terpencil, Prefektur Tokushima, Pulau Shikoku.
- Perbandingan Populasi: Jumlah boneka melebihi jumlah manusia dengan perbandingan lebih dari 10 banding 1
- Aktivitas Boneka: Boneka-boneka tersebut di letakkan di berbagai sudut desa untuk menyerupai kehidupan sehari-hari, seperti petani menunggu bus, nelayan, dan murid-murid di sekolah.
- Aksesibilitas: Karena lokasinya yang berada di daerah pegunungan, tempat ini cukup sulit di jangkau. Di sarankan untuk menyewa mobil agar lebih leluasa mengeksplorasi rute menuju wilayah ini.
Sekolah Dasar di Nagoro Tidak lagi memiliki murid
Sekolah dasar di nagoro tidak memiliki murid akan tetapi kelasnya masih penuh oleh siswa boneka. Boneka-boneka itu duduk rapi di banku, seolah olah mereka masih menunggu pelajaran di mulai.
Boneka-boneka itu di letakkan di teras rumah kosong, di bangunan yang sudah lama terbengkalai, hingga di berbagai area publik sebagai bentuk penghormatan kepada warga yang telah tiada atau meninggalkan Nagoro.
Ayano mengaku setiap boneka dibuat sambil membayangkan sosok asli orang yang diwakilinya ketika masih hidup dan dalam kondisi sehat. Baginya, boneka-boneka tersebut memiliki arti yang sangat personal dan ia menganggapnya seperti anak-anaknya sendiri.
Banyak dikunjungi wisatawan
Wisatawan datang karena merasa seperti memasuki dunia yang berhenti oleh waktu. Di setiap sudut desa, boneka-boneka itu seakan menjadi pengingat bahwa pernah ada kehidupan yang begitu ramai di tempat tersebut. Kini, Desa Nagoro di kenal luas sebagai “kampung boneka” yang menarik perhatian wisatawan sekaligus menjadi simbol bagaimana sebuah komunitas berusaha menjaga kenangan akan para warganya di tengah ancaman menjadi desa mati. (ell/wz)











Komentar