AI Bukan Gelembung, Gema Goeyardi: Revolusi Baru Dimulai

Gema Goeyardi Yakin Tren AI Masih di Tahap Awal

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 21:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

tren AI masih di tahap awal perkembangan

tren AI masih di tahap awal perkembangan

OKETRENDS.COM – Pengamat pasar Gema Goeyardi menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih berada pada fase awal dan belum mencapai titik puncaknya. Karena itu, ia meyakini tren AI saat ini bukan sekadar gelembung yang akan segera berakhir, melainkan bagian dari transformasi teknologi jangka panjang.

Pandangan tersebut di sampaikan Gema dalam podcast bersama Gabriel Rey yang tayang pada 18 Juni 2026. Menurutnya, meskipun valuasi sejumlah saham perusahaan teknologi terlihat sangat tinggi, kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gelembung di pasar.

Gema menjelaskan bahwa teknologi AI masih memiliki peluang pertumbuhan yang luas di berbagai sektor. Pemanfaatannya terus berkembang, mulai dari peningkatan produktivitas hingga efisiensi operasional di dunia usaha.

Valuasi Tinggi Belum Tentu Menandakan Gelembung

Dalam beberapa waktu terakhir, kenaikan harga saham perusahaan yang bergerak di bidang AI memicu perdebatan di kalangan investor. Sebagian pihak menilai valuasi yang melonjak tajam berpotensi menciptakan gelembung seperti yang pernah terjadi pada sektor teknologi di masa lalu.

Baca Juga :  Skinimalism Jadi Tren, Skincare Banyak Tahap Mulai Ditinggalkan

Namun, Gema berpandangan berbeda. Ia menilai tingginya valuasi saat ini harus di lihat dalam konteks perkembangan industri yang masih berada pada tahap awal. Dengan kata lain, potensi pertumbuhan AI di nilai masih jauh lebih besar di bandingkan tingkat adopsinya saat ini.

Selain itu, perkembangan teknologi tersebut terus mendorong munculnya berbagai inovasi baru yang berpotensi mengubah cara perusahaan beroperasi dan mengambil keputusan bisnis.

Deloitte Di nilai Menunjukkan Keseriusan Industri

Sebagai salah satu indikator bahwa AI bukan tren sesaat, Gema menyoroti langkah Deloitte yang telah menerbitkan berbagai panduan mitigasi risiko terkait penggunaan kecerdasan buatan.

Menurutnya, kehadiran pedoman tersebut menunjukkan bahwa pelaku industri mulai mempersiapkan penerapan AI secara serius dan berkelanjutan. Fokusnya tidak hanya pada peluang bisnis, tetapi juga pada pengelolaan risiko yang mungkin muncul seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut.

Langkah tersebut di nilai menjadi sinyal bahwa AI telah memasuki tahap yang lebih matang di bandingkan sekadar tren yang ramai di perbincangkan dalam jangka pendek.

Baca Juga :  Viral Atlet China Bangkrut Usai Uang Dikelola Istri, Begini Fakta Sebenarnya

Berbeda dengan Fenomena Metaverse

Gema juga membandingkan perkembangan AI dengan metaverse yang sempat menjadi pusat perhatian dunia beberapa tahun lalu. Menurutnya, kedua fenomena tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Ia menilai AI telah menunjukkan manfaat yang lebih nyata dalam aktivitas bisnis dan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat proses analisis data, hingga membantu pengambilan keputusan secara lebih efektif.

Karena itu, dampak AI di nilai lebih konkret dan mudah di rasakan di bandingkan sejumlah tren teknologi sebelumnya.

Berpotensi Menjadi Transformasi Besar

Melihat perkembangan yang terjadi saat ini, Gema meyakini revolusi AI baru saja di mulai. Ia menilai teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu perubahan terbesar dalam beberapa dekade ke depan.

Jika adopsi terus meningkat di berbagai sektor, AI di perkirakan akan memainkan peran penting dalam membentuk cara manusia bekerja, berbisnis, dan berinteraksi dengan teknologi di masa mendatang.

Sumber: Podcast Gabriel Rey, 18 Juni 2026. (ell)

Berita Terkait

Kenapa Gen Z Suka Scroll tapi Enggan Posting? Ini Fenomenanya
Robot Superman China Makin Gila, Bisa Lari 45,6 Km/Jam dan Lompat 2 Meter
10 Prompt Gemini AI Foto Keluarga Estetik, dari Studio hingga Liburan
Ingin Tinggal di Bawah Laut seperti Bikini Bottom? Startup Ini Siapkan Habitatnya
Elon Musk Prediksi Uang Tak Berguna pada 2036, AI Disebut Gantikan Sistem Ekonomi
IWAPI Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik, Siap Perkuat UMKM Perempuan dan Dukung Ekonomi Daerah
Bukan Buahnya, Ternyata Getah Pepaya Jadi Bagian Paling Mahal, Ini Alasannya
China Terapkan Aturan Keras, Keluarga Pejabat Dilarang Berbisnis di Wilayah Kekuasaan
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Kenapa Gen Z Suka Scroll tapi Enggan Posting? Ini Fenomenanya

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Robot Superman China Makin Gila, Bisa Lari 45,6 Km/Jam dan Lompat 2 Meter

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:39 WIB

10 Prompt Gemini AI Foto Keluarga Estetik, dari Studio hingga Liburan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 23:40 WIB

Ingin Tinggal di Bawah Laut seperti Bikini Bottom? Startup Ini Siapkan Habitatnya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:20 WIB

Elon Musk Prediksi Uang Tak Berguna pada 2036, AI Disebut Gantikan Sistem Ekonomi

Berita Terbaru