Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman

Karhutla kembali menyebar di Kalimantan, sementara BMKG menyebut kabut Kerinci dan Sungai Penuh berasal dari uap air.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Karhutla kembali menyebar di Kalimantan,

Karhutla kembali menyebar di Kalimantan,

Karhutla Kembali Mengepung Sejumlah Wilayah Kalimantan

Oketrends.com — Langit sejumlah wilayah Kalimantan kembali tertutup kabut asap tebal pada pertengahan Agustus 2026. Fenomena kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla juga kembali melonjak tajam. Berdasarkan pantauan peta digital terkini, titik api atau hotspot tersebar di hampir seluruh provinsi. Sebaran tersebut mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Kondisi itu membuat udara sejumlah kota terasa sesak dan memiliki bau yang menyengat. Bagi masyarakat Kalimantan, kabut asap kembali menghadirkan ancaman yang muncul setiap tahun. Namun, kondisi geografis turut memengaruhi perkembangan kebakaran di kawasan tersebut. Puncak musim kemarau membuat vegetasi hutan mengering dan lebih mudah terbakar.

Selain itu, hembusan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api di area terbuka. Percikan api dari aktivitas pembersihan lahan juga dapat membesar dalam waktu singkat. Akibatnya, api dapat meluas ketika kondisi lahan sangat kering. Situasi tersebut kemudian memperbesar ancaman kabut asap bagi masyarakat sekitar.

Titik Api Mulai Mengganggu Aktivitas Warga

Titik api banyak muncul pada wilayah dengan hamparan lahan luas dan semak belukar yang mengering. Kota seperti Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarbaru mulai merasakan dampak kabut asap. Pada pagi dan sore hari, warga menghadapi penurunan jarak pandang yang cukup tajam. Kondisi itu mengganggu keselamatan pengguna jalan serta berbagai rutinitas masyarakat.

Banyak warga mempertanyakan alasan kebakaran di Kalimantan dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Bahkan, sejumlah kebakaran dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga benar-benar padam. Karakteristik tanah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi lamanya proses tersebut. Sebagian wilayah terbakar memiliki ekosistem gambut dengan kandungan material organik yang tebal.

Tanah gambut terbentuk dari sisa pepohonan dan tumbuhan purba yang menumpuk selama ribuan tahun. Ketika musim kemarau tiba, udara dalam tanah menyusut dan membuat gambut semakin kering. Kondisi tersebut membuat tanah gambut menyerupai spons kering yang mudah terbakar. Api bahkan dapat merambat turun melalui lapisan tanah dan memicu kebakaran bawah tanah.

Api Gambut Sulit Dideteksi dari Permukaan

Kebakaran bawah tanah membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit bagi petugas. Api tidak hanya membakar pepohonan, tetapi juga menjalar melalui lapisan gambut. Karena itu, asap putih tebal masih dapat muncul meski petugas sudah menyiram permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat petugas perlu memastikan bara benar-benar padam.

Dari permukaan, tanah mungkin terlihat sudah tidak terbakar dan hanya mengeluarkan asap tipis. Namun, bara api masih dapat menyala pada kedalaman satu hingga dua meter. Bara tersebut kemudian dapat menjalar menuju area lain di dalam tanah. Selain itu, akses jalan yang terbatas menuju kawasan hutan memperberat proses pemadaman.

Sebaran Kondisi Asap di Wilayah Kalimantan

Provinsi Kondisi Lahan Dominan Tingkat Keparahan Asap Dampak Utama pada Warga Wilayah Terparah
Kalimantan Barat Semak belukar dan gambut dangkal Sangat pekat Sekolah diliburkan, penerbangan tertunda Kubu Raya, Pontianak, Ketapang
Kalimantan Tengah Hutan gambut dalam Bahaya / pekat sekali Puskesmas dipenuhi pasien batuk/ISPA Palangkaraya, Kotawaringin Barat
Kalimantan Selatan Rawa dan lahan pertanian Sedang – pekat Jarak pandang jalan raya sangat pendek Banjarbaru, Tanah Laut
Kalimantan Timur Perkebunan dan hutan sekunder Sedang Kualitas udara menguning/kotor Penajam Paser Utara, Kutai
Baca Juga :  PT KMH Gelar Khitan Massal Gratis untuk 50Anak Kerinci

Dampak Karhutla terhadap Masyarakat

1. Kualitas Udara Memburuk dan ISPA Mengancam

Asap Karhutla membawa partikel abu berukuran sangat kecil yang berbahaya ketika masuk ke paru-paru. Dalam sepekan terakhir, jumlah pasien ISPA di puskesmas dan rumah sakit meningkat pesat. Anak-anak, bayi, dan lansia menjadi kelompok yang paling merasakan dampak tersebut. Mereka menghadapi kesulitan ketika menghirup udara segar di tengah kepungan asap.

2. Sekolah Meliburkan Pembelajaran Tatap Muka

Pekatnya asap pada pagi hari mendorong sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Mereka meliburkan kegiatan sekolah tatap muka untuk mengurangi paparan asap di luar ruangan. Selanjutnya, para siswa mengikuti kegiatan belajar dari rumah. Kondisi tersebut mengganggu proses belajar-mengajar yang baru kembali berjalan normal.

3. Penerbangan Tertunda dan Aktivitas Ekonomi Terganggu

Kabut asap juga menghambat aktivitas transportasi di sejumlah wilayah Kalimantan. Di beberapa bandara lokal, penerbangan pagi mengalami penundaan karena jarak pandang pilot menurun. Sementara itu, pengemudi menyalakan lampu utama pada siang hari untuk menghindari kecelakaan. Para pedagang dan pekerja luar ruangan juga menghadapi penurunan aktivitas karena warga memilih tinggal di rumah.

Teknologi Membantu Mendeteksi Titik Api

Di era digital, teknologi membantu petugas mendeteksi titik api di kawasan hutan yang luas. Satelit dan peta digital dapat menunjukkan posisi koordinat kebakaran secara real-time. Teknologi tersebut memantau suhu permukaan bumi dari luar angkasa. Ketika suhu suatu area melonjak melewati batas normal, satelit menandainya sebagai titik merah atau hotspot pada peta.

Selanjutnya, tim satgas menggunakan data tersebut untuk menentukan lokasi kebakaran. Petugas kemudian dapat bergerak menuju titik kejadian sebelum api semakin meluas. Dengan cara itu, teknologi membantu mempercepat pemantauan kawasan terdampak. Data titik api juga membantu petugas menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan.

Upaya Mencegah Karhutla Berulang

Pemerintah, masyarakat, dan pelajar perlu bekerja sama agar bencana tahunan tersebut tidak terus berulang. Salah satu langkah penting yaitu menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar. Cara tersebut memang cepat, tetapi api kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar saat kemarau. Karena itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran semak belukar.

Langkah berikutnya yaitu menjaga lahan gambut tetap basah sepanjang kondisi memungkinkan. Masyarakat dapat membendung parit dengan membuat sekat agar air tidak mengalir keluar menuju sungai. Dengan begitu, tanah gambut di sekitarnya tetap lembap dan lebih sulit terbakar. Upaya tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kondisi lahan gambut.

Selain itu, warga perlu meningkatkan kesadaran terhadap potensi kebakaran di lingkungannya. Masyarakat dapat saling mengawasi apabila melihat percikan api atau aktivitas pembakaran lahan. Jika menemukan pembakaran yang dilakukan secara sengaja, warga perlu segera melaporkannya kepada petugas setempat. Dengan respons cepat, potensi kebakaran dapat segera mendapat penanganan.

Kabut Kerinci dan Sungai Penuh Bukan Asap Karhutla

Sementara itu, masyarakat Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Jambi, belakangan memperhatikan fenomena kabut yang menyelimuti wilayah tersebut. Kabut terlihat mengganggu pemandangan alam, terutama panorama gunung dan perbukitan. Kondisi tersebut menarik perhatian warga karena jarak pandang mulai berkurang. Namun, BMKG memastikan fenomena itu bukan kabut asap akibat kebakaran hutan atau lahan.

Baca Juga :  Resmi Berlaku, Ini Daftar Harga BBM Pertamina 10 Juni 2026

Pantauan pada Selasa, 11 Agustus 2026, sekitar pukul 12.30 WIB menunjukkan kabut masih menyelimuti sejumlah kawasan. Meski belum terlalu pekat, kondisi tersebut mulai warga rasakan dalam aktivitas sehari-hari. Seorang warga bernama Budi mengatakan kabut semakin jelas seiring waktu. Menurutnya, kondisi tersebut belum menghambat aktivitas, tetapi menimbulkan kekhawatiran jika kabut semakin tebal.

“Semakin siang kabut semakin jelas terlihat. Bukit dan gunung yang biasanya terlihat indah sekarang mulai tertutup,” ujarnya.

BMKG Jelaskan Penyebab Kabut di Kerinci

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Depati Parbo Kerinci, Kurnianingsih, S.P., M.T., memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Ia memastikan kabut yang muncul bukan berasal dari kebakaran hutan maupun lahan. Menurutnya, kondisi tersebut muncul akibat tingginya kelembapan udara di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Faktor cuaca menjadi penyebab utama munculnya kabut tersebut.

“Pantauan kami menunjukkan jarak pandang sekitar 6.000 meter dengan kelembaban udara mencapai 62 persen. Kondisi cuaca saat ini adalah haze atau pandangan kabur, namun bukan disebabkan oleh asap, melainkan kabut uap air,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut masih tergolong normal dan berkaitan dengan faktor cuaca. Kelembapan udara yang relatif tinggi turut memengaruhi kondisi wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung menghubungkan kabut tersebut dengan Karhutla Kalimantan. Fenomena yang terjadi di Kerinci dan Sungai Penuh, menurut BMKG, berasal dari faktor alam.

Warga Tetap Diminta Berhati-hati

Meski BMKG menyatakan kondisi tersebut normal, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengendara terutama perlu berhati-hati ketika melintasi jalan dengan jarak pandang yang sedikit berkurang. Warga juga perlu memahami perbedaan antara kabut uap air dan kabut asap akibat kebakaran. Dengan begitu, masyarakat tidak langsung mengaitkan kabut Kerinci dengan kebakaran di wilayah lain.

Sebelumnya, sebagian masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci mengaitkan kabut tersebut dengan asap dari Kalimantan. Namun, penjelasan Kepala BMKG Depati Parbo Kerinci menunjukkan kondisi berbeda. BMKG menyebut kabut itu tidak berasal dari Karhutla, melainkan faktor alam berupa uap air. Karena itu, informasi mengenai penyebab kabut perlu merujuk pada penjelasan resmi BMKG.

Menjaga Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Kebakaran hutan di Kalimantan menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Penanganan Karhutla tidak hanya membutuhkan kerja petugas pemadam di lapangan. Masyarakat juga memiliki peran dalam mencegah munculnya titik api di sekitar lingkungan. Karena itu, kepedulian bersama menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran.

Respons cepat dari berbagai pihak juga membantu mengurangi dampak kebakaran terhadap aktivitas warga. Sementara itu, masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh perlu memahami bahwa kabut yang mereka alami bukan kiriman asap Kalimantan. Berdasarkan penjelasan BMKG, kondisi tersebut muncul akibat faktor alam dan kelembapan udara. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat tetap waspada tanpa menyebarkan informasi yang belum terverifikasi (el/*).

Berita Terkait

Kabar Gembira! 196 CPNS Sungai Penuh Segera Terima SK Pengangkatan
Mau Umrah Tanpa Biro Travel? Ini Syarat dan Cara Daftar Mandiri
Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?
Jambi Jadi Destinasi Favorit Gen Z, 3 Wisata Ini Tawarkan Pengalaman Tak Sekadar Foto
Siswi SMAN 2 Sungai Penuh Bawa Merah Putih dalam Kirab HUT RI ke-81 Kemarin
30 Pelajar Terpilih Jadi Paskibraka Kerinci 2026, Ini Daftar Sekolahnya
Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi
Aturan Baru! Kejaksaan Kini Libatkan Hukum Adat dalam Penyelesaian Perkara Pidana
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Kabar Gembira! 196 CPNS Sungai Penuh Segera Terima SK Pengangkatan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:34 WIB

Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:52 WIB

Jambi Jadi Destinasi Favorit Gen Z, 3 Wisata Ini Tawarkan Pengalaman Tak Sekadar Foto

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:47 WIB

Siswi SMAN 2 Sungai Penuh Bawa Merah Putih dalam Kirab HUT RI ke-81 Kemarin

Berita Terbaru