Oketrends.com – Tren wisata kini mulai bergeser dari sekadar berfoto menuju pengalaman yang lebih aktif. Konsep tersebut dikenal sebagai sight-doing, yaitu menikmati destinasi sambil melakukan aktivitas secara langsung. Karena itu, Jambi memiliki sejumlah lokasi yang cocok bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda.
Provinsi Jambi menawarkan pilihan wisata dengan karakter yang beragam dan menarik. Selain wisata modern, kawasan ini memiliki alam, sejarah, serta budaya yang kuat. Bahkan, beberapa destinasi menawarkan aktivitas fisik sekaligus pengalaman dekat dengan lingkungan. Tak heran, wisata berbasis pengalaman mulai mendapat perhatian dari kalangan anak muda.
Jambi Punya Banyak Pilihan Wisata Berbasis Pengalaman
Salah satu destinasi baru yang menarik perhatian berada di Muaro Jambi. Jambi Park di Desa Sungai Gelam memadukan sejumlah area tematik dalam satu kawasan. Pengunjung dapat menemukan Snow Park, Sakura Park, dan Dinoland dalam destinasi tersebut. Selain itu, pengelola menyediakan skuter serta sepeda listrik yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi lain, kawasan Kota Tua Jambi menawarkan pengalaman wisata dengan nuansa berbeda. Pemerintah Kota Jambi mengaktifkan kawasan wisata kuliner tersebut sebagai pusat ekonomi kreatif baru. Kawasan bersejarah itu kini menghadirkan pasar kuliner malam dengan konsep yang lebih estetik. Pengunjung dapat menikmati kuliner modern dan tradisional dari pukul 17.00 hingga 23.00 WIB.
Sementara itu, Festival Batanghari kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara atau KEN. Festival tersebut mengangkat sejarah Sungai Batanghari sebagai jalur perdagangan internasional pada masa lalu. Para pedagang asing datang untuk bernegosiasi dengan membawa komoditas rempah, madu, dan emas. Kehadiran Museum Sriwijaya Dharmakirti juga memperkuat pengembangan kawasan budaya Muaro Jambi.
Tren Sight-Doing Mulai Dilirik Gen Z
Wisatawan kini tidak selalu puas dengan aktivitas melihat pemandangan lalu mengambil foto. Sebaliknya, banyak wisatawan muda ingin terlibat langsung dalam aktivitas selama perjalanan. Mereka mencari pengalaman yang menghadirkan tantangan, interaksi, dan kedekatan dengan alam. Konsep tersebut kemudian berkembang sebagai tren sight-doing.
Jambi memiliki sejumlah destinasi yang sesuai dengan konsep tersebut. Danau Kaco menawarkan pengalaman trekking melewati hutan tropis sebelum mencapai lokasi. Perkebunan Teh Kayu Aro menghadirkan aktivitas berjalan di antara perkebunan sekaligus mengenal proses produksi teh. Sementara itu, Danau Gunung Tujuh menawarkan pendakian, berkemah, hingga aktivitas mendayung.
Karena itu, ketiga destinasi tersebut tidak hanya mengandalkan pemandangan sebagai daya tarik. Wisatawan dapat melakukan aktivitas fisik sekaligus menikmati suasana alam. Pengalaman tersebut membuat perjalanan terasa lebih aktif dan personal. Bagi wisatawan muda, aktivitas semacam ini juga memberikan cerita berbeda setelah perjalanan selesai.
1. Danau Kaco, Destinasi dengan Air Biru yang Memikat
Danau Kaco berada di bawah naungan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat atau TNKS. Selain itu, airnya tampak biru jernih dengan kilauan yang menarik perhatian pengunjung. Karena itu, Danau Kaco menjadi salah satu destinasi alam yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Fenomena tersebut dikaitkan dengan pantulan mineral alami di dalam danau. Kondisi itu membuat Danau Kaco memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Namun, pengunjung tidak bisa langsung mencapai danau dengan perjalanan singkat. Mereka perlu melakukan trekking selama sekitar dua hingga tiga jam melewati hutan tropis. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman sight-doing di Danau Kaco. Berdasarkan penelitian Universitas Jambi, mayoritas pengunjung berada pada rentang usia 17 hingga 25 tahun.
Selain keindahan alam, Danau Kaco juga memiliki cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Menurut legenda setempat, kilau pada dasar danau berkaitan dengan tumpukan intan. Masyarakat menghubungkannya dengan para pemuda yang membawa intan untuk melamar Napal Melintang. Cerita tersebut menambah unsur misteri yang melekat pada destinasi ini.
Bagi wisatawan muda, aktivitas di Danau Kaco tidak berhenti pada pengambilan gambar. Trekking menjadi bagian utama perjalanan sebelum menikmati keindahan danau. Pengunjung juga dapat merasakan suasana hutan serta mendengarkan suara alam di sekitarnya. Dengan demikian, perjalanan menuju Danau Kaco menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
2. Perkebunan Teh Kayu Aro, Menikmati Alam di Ketinggian
Perjalanan berikutnya dapat berlanjut menuju Perkebunan Teh Kayu Aro di kaki Gunung Kerinci. Perkebunan tersebut memiliki luas sekitar 2.500 hektare dengan ketinggian mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut membuat Kayu Aro dikenal sebagai kebun teh tertinggi kedua di dunia. Posisi pertama ditempati perkebunan teh Darjeeling di India.
Wisatawan dapat melakukan tea walk untuk menikmati kawasan perkebunan secara langsung. Aktivitas tersebut memungkinkan pengunjung berjalan di antara tanaman teh sambil melihat aktivitas pekerja lokal. Pengunjung juga dapat mengenal proses pemetikan daun teh secara lebih dekat. Dengan begitu, perjalanan tidak hanya menghadirkan pemandangan hijau.
Perkebunan ini juga memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Kayu Aro berdiri sejak 1925 dan dikenal melalui produksi Teh Hitam Ortiz. Wisatawan dapat menikmati teh sekaligus merasakan suasana kawasan perkebunan. Suhu udara yang sejuk juga menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
Menurut laporan perjalanan yang tercantum dalam sumber, perkebunan tersebut menghasilkan hingga 5.500 ton teh setiap tahun. Produksinya juga menyasar pasar ekspor. Karena itu, kunjungan ke Kayu Aro dapat memberikan pengalaman wisata sekaligus gambaran mengenai aktivitas perkebunan. Pengunjung juga bisa melihat hubungan antara wisata, lingkungan, dan kegiatan ekonomi masyarakat.
3. Danau Gunung Tujuh, Petualangan di Kaldera Tertinggi Asia Tenggara
Danau Gunung Tujuh berada pada ketinggian sekitar 1.950 meter di atas permukaan laut. Destinasi ini di kenal sebagai danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara. Sesuai namanya, kawasan tersebut di kelilingi tujuh puncak gunung. Kawasannya juga masuk dalam situs warisan dunia UNESCO.
Untuk mencapai lokasi, wisatawan harus melewati jalur hutan dengan waktu pendakian sekitar tiga jam. Perjalanan tersebut membutuhkan kesiapan fisik karena jalurnya menawarkan tantangan tersendiri. Namun, pemandangan danau akan menyambut pengunjung setelah perjalanan berakhir. Kabut yang kerap menyelimuti kawasan juga memberikan suasana khas.
Pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas setelah mencapai kawasan danau. Salah satunya adalah menyewa sampan kayu milik nelayan setempat untuk mendayung di atas air. Wisatawan juga dapat mendirikan tenda melalui aktivitas camping di sekitar kawasan yang di perbolehkan. Aktivitas tersebut membuat kunjungan terasa lebih lengkap di bandingkan sekadar berfoto.
Selain itu, pengelolaan kawasan turut memperhatikan aspek konservasi dan masyarakat sekitar. Panduan dari Wild Sumatra menyebutkan bahwa biaya retribusi dan pemandu di alokasikan kembali untuk konservasi lingkungan serta komunitas lokal. Karena itu, aktivitas wisata dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga kawasan. Konsep tersebut sejalan dengan karakter wisata berbasis pengalaman.
Mengapa Sight-Doing Menarik bagi Wisatawan Muda?
Bagi sebagian wisatawan muda, perjalanan kini tidak cukup hanya menghasilkan foto. Mereka juga ingin membawa pulang pengalaman yang bisa di ceritakan kembali. Karena itu, aktivitas seperti trekking, tea walk, camping, dan mendayung menjadi bagian penting dalam perjalanan. Pengalaman tersebut membuat wisata terasa lebih aktif dan berkesan.
Jambi memiliki peluang besar untuk mengikuti perubahan tren tersebut. Wilayahnya menyediakan destinasi alam yang menuntut pengunjung bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan. Danau Kaco menawarkan perjalanan melewati hutan tropis. Kayu Aro menghadirkan pengalaman perkebunan, sedangkan Danau Gunung Tujuh menawarkan pendakian dan aktivitas air.
Di luar wisata alam, Jambi juga memiliki destinasi modern dan kawasan budaya yang menarik. Jambi Park menghadirkan konsep taman tematik bagi keluarga. Kota Tua Jambi menawarkan wisata kuliner malam dengan perpaduan arsitektur lama dan sajian modern. Sementara itu, Festival Batanghari mengangkat kembali sejarah sungai sebagai ruang perdagangan pada masa lalu.
Pada akhirnya, tren sight-doing menunjukkan perubahan cara wisatawan menikmati perjalanan. Mereka tidak hanya melihat destinasi, tetapi juga melakukan aktivitas di dalamnya. Jambi menawarkan banyak pilihan untuk wisatawan yang ingin merasakan pengalaman tersebut. Dari hutan tropis hingga perkebunan teh, setiap tempat memiliki karakter dan aktivitas berbeda.
Jika Anda mencari perjalanan yang lebih aktif, tiga destinasi tersebut dapat menjadi pilihan untuk menjelajahi Jambi. Danau Kaco menawarkan misteri dan trekking, Kayu Aro menghadirkan pengalaman perkebunan, sedangkan Danau Gunung Tujuh menyuguhkan petualangan kaldera. Dengan demikian, perjalanan tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman langsung dengan alam dan masyarakat. (el/*) Oketrends.com











Komentar