OKETRENDS.COM – Kontroversi Folarin Balogun kembali mengguncang Piala Dunia 2026. Keputusan FIFA mengizinkan penyerang Timnas Amerika Serikat itu tetap bermain usai menerima kartu merah memicu gelombang kritik. Banyak pihak kemudian mempertanyakan konsistensi penerapan aturan di Piala Dunia 2026.
Banyak pihak menilai keputusan tersebut mencerminkan standar ganda. Kritik tidak hanya di arahkan kepada FIFA, tetapi juga kepada Presiden FIFA Gianni Infantino yang di nilai gagal menjaga integritas kompetisi.
Babak Gugur Di bayangi Polemik
Memasuki fase gugur, atmosfer Piala Dunia 2026 sebenarnya mulai memanas dengan pertandingan-pertandingan yang lebih kompetitif. Namun, sorotan justru kembali tertuju pada berbagai kontroversi yang muncul di luar lapangan.
Sebelumnya, publik juga menyoroti perlakuan terhadap Iran dan absennya wasit Omar Artan. Selain itu, keputusan yang membuat Cristiano Ronaldo lolos dari sanksi kartu merah juga memicu perdebatan.
Kini, perhatian beralih kepada Folarin Balogun. Banyak pihak menilai keputusan FIFA mengizinkannya tampil melawan Belgia menjadi pukulan terhadap kredibilitas kompetisi.
Balogun Tetap Bermain Meski Kena Kartu Merah

Balogun sebelumnya mendapat kartu merah langsung saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia & Herzegovina pada babak 32 besar. Ia di anggap melakukan tekel berbahaya terhadap Tarik Muharemovic.
Sesuai regulasi yang berlaku, kartu merah langsung umumnya berujung pada skorsing otomatis satu pertandingan. Namun, sekitar 24 jam sebelum laga kontra Belgia, FIFA mengumumkan bahwa Balogun tidak perlu menjalani hukuman tersebut.
Keputusan itu memicu perdebatan luas.
Kapten Amerika Serikat, Christian Pulisic, menyebut keputusan tersebut “terasa tepat”. Pernyataan itu justru menuai respons berbeda dari banyak pengamat.
Mantan bek Manchester United, Gary Neville, menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik FIFA.
“Ini benar-benar menjijikkan,” ujar Neville di ITV.
Menurutnya, kartu merah seharusnya di batalkan melalui prosedur resmi jika memang ada mekanisme peninjauan. Bukan lewat keputusan yang di nilai tidak transparan.
Neville juga menilai Belgia berhak merasa di rugikan karena aturan seharusnya berlaku sama bagi semua peserta.
Belgia Pertanyakan Dasar Keputusan FIFA

Pelatih Belgia, Rudi Garcia, menyindir keputusan tersebut dengan bercanda bahwa ia tidak mengetahui tanggal 5 Juli merupakan Hari April Mop di Amerika Serikat.
Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) mengaku terkejut dengan pencabutan sanksi terhadap Balogun.
Dalam pernyataannya, RBFA menjelaskan FIFA mendasarkan keputusan itu pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang memberikan kewenangan kepada Komite Disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi.
Namun, RBFA menilai keputusan tersebut bertentangan dengan Pasal 66.4 Kode Disiplin FIFA yang menyatakan kartu merah otomatis berujung skorsing pada pertandingan berikutnya.
Selain itu, RBFA juga mengutip Pasal 10.5 Peraturan Kompetisi Piala Dunia FIFA 2026 yang kembali menegaskan bahwa pemain yang menerima kartu merah harus menjalani hukuman otomatis satu pertandingan.
Aturan tersebut, menurut RBFA, juga telah di tegaskan melalui Surat Edaran Piala Dunia FIFA 2026 Nomor 16 yang di bagikan kepada seluruh peserta pada 12 Mei 2026.
Karena itu, federasi Belgia menyatakan sedang mempelajari berbagai opsi hukum guna melindungi prinsip fair play.
Isu Campur Tangan Politik Muncul

Kontroversi semakin melebar setelah muncul laporan mengenai dugaan keterlibatan pemerintah Amerika Serikat.
CBS dan The New York Times melaporkan Donald Trump di sebut berbicara langsung dengan Gianni Infantino mengenai sanksi Balogun. Bahkan, Trump sempat mengunggah ucapan terima kasih kepada FIFA atas apa yang ia sebut sebagai “pembatalan ketidakadilan besar.”
Meski demikian, FIFA membantah adanya campur tangan Gedung Putih dalam pengambilan keputusan tersebut.
Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, tetap menilai situasi itu menciptakan citra buruk bagi FIFA.
UEFA bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang “tak dapat di pahami dan tak dapat di benarkan” karena di nilai melampaui batas prinsip keadilan dalam sepak bola.
Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, ikut angkat bicara.
“Kartu merah tidak dibatalkan melalui panggilan telepon politik. Kartu merah dibatalkan berdasarkan aturan, bukti, dan badan independen,” tulisnya di media sosial.
Kredibilitas FIFA Kembali Dipertanyakan

Kontroversi Balogun menambah daftar panjang kritik terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Gary Neville menilai setiap negara peserta yang sebelumnya kehilangan pemain akibat kartu merah kini memiliki alasan untuk merasa di perlakukan tidak adil.
Di sisi lain, berbagai keputusan FIFA sepanjang turnamen di nilai semakin memperkuat anggapan bahwa organisasi tersebut tidak lagi konsisten menerapkan regulasi.
Mulai dari polemik skorsing pemain, penunjukan perangkat pertandingan, hingga berbagai kebijakan lain, semuanya di nilai terus menggerus kepercayaan publik terhadap integritas Piala Dunia 2026.
Bagi banyak pengamat, apa pun hasil yang di raih Amerika Serikat nanti, kontroversi mengenai Balogun di perkirakan akan terus membayangi perjalanan mereka hingga turnamen berakhir. (ell/dts)











Komentar