Mengapa Pendidikan Jepang Lebih Maju dari Indonesia?

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 06:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa Pendidikan Jepang Lebih Maju dari Indonesia?

Mengapa Pendidikan Jepang Lebih Maju dari Indonesia?

Mengapa Anak-anak Jepang Terlihat Lebih Unggul dalam Pendidikan?

Banyak orang bertanya mengapa anak-anak Jepang sering dianggap lebih pintar dibandingkan anak-anak Indonesia. Namun, pertanyaan tersebut sebenarnya berangkat dari asumsi yang kurang tepat, seolah-olah terdapat perbedaan bawaan atau keunggulan genetik yang membuat anak-anak Jepang lebih cerdas sejak lahir.

Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa secara biologis tidak ada perbedaan mendasar dalam kapasitas intelektual antara anak-anak Indonesia dan Jepang. Kemampuan otak manusia berkembang melalui kombinasi faktor lingkungan, pendidikan, budaya, serta dukungan sosial yang diterima sejak usia dini.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah mengapa anak Jepang lebih pintar, melainkan bagaimana Indonesia dapat membangun sistem pendidikan yang mampu menghasilkan kualitas pembelajaran setara dengan Jepang.

Pendidikan Menjadi Prioritas Nasional

Kemajuan pendidikan Jepang tidak muncul dalam waktu singkat. Negara tersebut membangun fondasi pendidikan selama berabad-abad dengan menempatkan guru, karakter, dan kualitas manusia sebagai elemen utama pembangunan bangsa.

Alih-alih hanya mendorong siswa menghafal materi pelajaran, Jepang mengembangkan ekosistem pendidikan yang bertujuan membentuk individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran sosial tinggi.

Yoshida Shōin dan Pendidikan yang Membebaskan

Salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Jepang adalah Yoshida Shōin. Jauh sebelum Jepang memasuki era modern, ia mendirikan sekolah kecil bernama Shōka Sonjuku.

Di sekolah tersebut, Shōin menghapus sekat status sosial. Anak samurai maupun rakyat biasa memperoleh kesempatan belajar yang sama. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan upaya membangkitkan kesadaran dan keberanian berpikir dalam diri setiap murid.

Shōin menempatkan konsep magokoro atau ketulusan hati sebagai inti pendidikan. Menurutnya, tugas seorang guru bukan memenuhi kepala murid dengan teori, tetapi menyalakan semangat agar mereka mampu berpikir kritis dan berkontribusi bagi masyarakat.

Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan sejumlah tokoh yang berperan dalam modernisasi Jepang.

Fukuzawa Yukichi dan Kemandirian Intelektual

Perkembangan pendidikan Jepang juga tidak bisa dilepaskan dari peran Fukuzawa Yukichi, tokoh yang wajahnya pernah diabadikan pada uang kertas 10.000 yen.

Melalui karya terkenalnya Gakumon no Susume atau Anjuran Belajar, Yukichi menyampaikan gagasan yang menggugah masyarakat Jepang:

“Langit tidak menciptakan manusia di atas manusia lain, juga tidak menciptakan manusia di bawah manusia lain.”

Menurutnya, perbedaan yang muncul di tengah masyarakat bukan ditentukan oleh kelahiran, melainkan oleh pendidikan yang diperoleh seseorang.

Baca Juga :  Pola Asuh Ibu Imam Syafi’i Melahirkan Jenius Islam

Yukichi memperkenalkan konsep jitsugaku atau ilmu praktis yang menekankan penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Ia menolak pendidikan yang hanya berisi hafalan tanpa pemahaman mendalam.

Bagi Yukichi, kemerdekaan sebuah bangsa hanya dapat terwujud apabila setiap individu memiliki kemandirian berpikir.

Mori Arinori dan Reformasi Profesi Guru

Jika Yoshida Shōin dan Fukuzawa Yukichi meletakkan dasar pemikiran pendidikan, maka Mori Arinori membangun sistem yang menopangnya.

Sebagai Menteri Pendidikan pertama Jepang pada era Meiji, Arinori memahami bahwa kualitas sekolah sangat bergantung pada kualitas gurunya. Karena itu, ia melakukan reformasi besar-besaran terhadap pendidikan keguruan melalui sekolah pelatihan guru atau Shihan Gakkō.

Arinori meningkatkan standar pendidikan calon guru sekaligus mengangkat martabat profesi tersebut. Guru diposisikan sebagai profesi terhormat yang memiliki disiplin tinggi serta tanggung jawab besar dalam membangun masa depan bangsa.

Negara juga memberikan dukungan nyata melalui pembiayaan pendidikan guru dan peningkatan kesejahteraan mereka.

Pendekatan yang diterapkan Arinori dapat diringkas dalam sebuah rantai sederhana:

Guru berkualitas → Murid berkarakter → Negara kuat dan berdaulat

Dari sini terlihat bahwa Jepang lebih dahulu berinvestasi pada guru sebelum mengharapkan hasil terbaik dari peserta didik.

Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia

Memasuki abad ke-20, Jepang mulai menyadari bahwa pendidikan tidak boleh hanya berfungsi memenuhi kebutuhan industri atau mencetak tenaga kerja semata.

Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang utuh, memiliki kebahagiaan hidup, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Tsunesaburo Makiguchi dan Pendidikan Penciptaan Nilai

Gagasan tersebut diperkuat oleh Tsunesaburo Makiguchi, seorang guru sekolah dasar sekaligus pemikir pendidikan yang dikenal melalui konsep Sōka Kyōikugaku atau Pedagogi Penciptaan Nilai.

Makiguchi menentang sistem pendidikan yang kaku, penuh tekanan, dan hanya berorientasi pada hasil akademik.

Menurutnya, tujuan utama pendidikan adalah membantu anak mencapai kebahagiaan sepanjang hidup. Guru berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa menciptakan nilai dalam kehidupannya.

Nilai yang dimaksud mencakup tiga aspek utama, yaitu keindahan, manfaat hidup, dan kebaikan sosial.

Melalui pendekatan tersebut, disiplin yang tumbuh pada anak-anak Jepang bukan lahir karena rasa takut terhadap hukuman, melainkan karena pemahaman mengenai pentingnya menghormati orang lain dan menjaga kepentingan bersama.

Kitarō Nishida dan Kesadaran Diri dalam Belajar

Pemikir Jepang lainnya, Kitarō Nishida, memberikan dimensi filosofis yang memperkaya dunia pendidikan.

Baca Juga :  Review Drakor The East Palace Netflix: Seru & Horor Banget!

Melalui konsep Zettai Mu atau Ketiadaan Mutlak serta gagasan tentang “pengalaman murni”, Nishida menjelaskan bahwa proses belajar tidak sekadar mengamati sesuatu dari luar.

Belajar merupakan proses menyatu dengan pengalaman itu sendiri. Karena itu, pendidikan harus mendorong peserta didik untuk mengalami, merasakan, dan memahami sesuatu secara mendalam.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran terhadap diri sendiri, lingkungan, dan makna kehidupan yang dijalani.

Pelajaran yang Bisa Dipetik Indonesia

Keberhasilan pendidikan Jepang bukanlah hasil dari keunggulan genetik. Capaian tersebut lahir dari ekosistem pendidikan yang dibangun secara konsisten selama ratusan tahun dengan menempatkan guru, karakter, dan kualitas manusia sebagai prioritas utama.

Apabila Indonesia ingin mengejar bahkan melampaui capaian Jepang, terdapat beberapa langkah mendasar yang perlu mendapat perhatian serius.

Pertama, meningkatkan kualitas sekaligus kesejahteraan guru melalui sistem seleksi yang lebih ketat, pendidikan yang lebih baik, dan penghargaan yang layak terhadap profesi pendidik.

Kedua, memperkuat pendidikan karakter dan nilai kehidupan dengan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya, bukan memaksakan standar keberhasilan yang seragam.

Ketiga, membangun komitmen politik dan sosial yang berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan. Anak-anak Indonesia memiliki potensi intelektual yang sama besar. Yang mereka butuhkan adalah sistem yang mampu mendukung perkembangan potensi tersebut secara optimal.

Sejarah Jepang menunjukkan bahwa reformasi pendidikan membutuhkan konsistensi lintas generasi. Oleh karena itu, pertanyaan yang patut direnungkan bersama adalah: langkah mana yang paling mendesak untuk dilakukan saat ini, memperbaiki kualitas dan kesejahteraan guru, atau merombak sistem penilaian dan kelulusan siswa?

Referensi

  1. Earl, David Magarey. Emperor and Nation in Japan: Political Thinkers of the Tokugawa Period. Seattle: University of Washington Press, 1964.
  2. Fukuzawa, Yukichi. An Encouragement of Learning. Terjemahan David A. Dilworth dan G. Cameron Hurst. New York: Columbia University Press, 2012.
  3. Hall, Ivan Parker. Mori Arinori. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1973.
  4. Makiguchi, Tsunesaburo. Education for Creative Living: Ideas and Proposals of Tsunesaburo Makiguchi. Ames: Iowa State University Press, 1989.
  5. Nishida, Kitarō. An Inquiry into the Good. Terjemahan Masao Abe dan Christopher Ives. New Haven: Yale University Press, 1990.
  6. Passin, Herbert. Society and Education in Japan. Tokyo: Kodansha International, 1982.

Penulis : Ell

Editor : ell

Berita Terkait

3 Film Korea Romantis Terbaik, Temani Akhir Pekanmu
Sinopsis Love’s Ambition, Drama China Romantis Penuh Konflik
Penjualan tiket hari pertama langsung menembus jutaan dolar dan memecahkan rekor awal film Marvel sebelumnya.
Drama Choi Hyun Wook Paling Populer, Sudah Nonton Semua?
4 Drama Korea Slice of Life Terbaik, Ceritanya Relate dengan Kehidupan
4 Drama China CEO dengan Rating Tinggi, Auto Baper
Dari Jalanan London ke DC Universe, Tom Rhys Harries Jadi Clayface
10 Ucapan Hari Anak Nasional 2026 yang Menyentuh Hati
Berita ini 33 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 23:30 WIB

3 Film Korea Romantis Terbaik, Temani Akhir Pekanmu

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:53 WIB

Sinopsis Love’s Ambition, Drama China Romantis Penuh Konflik

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

Penjualan tiket hari pertama langsung menembus jutaan dolar dan memecahkan rekor awal film Marvel sebelumnya.

Senin, 27 Juli 2026 - 04:00 WIB

Drama Choi Hyun Wook Paling Populer, Sudah Nonton Semua?

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:00 WIB

4 Drama Korea Slice of Life Terbaik, Ceritanya Relate dengan Kehidupan

Berita Terbaru

3 FILM KOREA
YANG BIKIN BAPER

Lifestyle

3 Film Korea Romantis Terbaik, Temani Akhir Pekanmu

Rabu, 29 Jul 2026 - 23:30 WIB

Modus baru pembobolan M-Banking

Edukasi

Modus Baru Pembobolan M-Banking, Begini Cara Mencegahnya

Rabu, 29 Jul 2026 - 21:58 WIB