Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Gempa kuat mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi. BNPB mencatat 47 korban meninggal dan ribuan warga mengungsi.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa NTT 7,7 M 47 korban meninggal dan ribuan warga mengungsi.

Gempa NTT 7,7 M 47 korban meninggal dan ribuan warga mengungsi.

Oketrends.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Hingga pukul 18.48 WIB, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Selain korban meninggal, sejumlah warga juga mengalami luka-luka akibat guncangan dan kerusakan bangunan. Sementara itu, sekitar 2.000 warga Kabupaten Nagekeo memilih mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri.

Data BNPB tersebut masih bersifat sementara. Karena itu, jumlah korban maupun kerusakan berpotensi bertambah seiring proses pendataan di lapangan.

Korban meninggal tersebar di sejumlah wilayah. Lokasinya meliputi Kabupaten Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, dan Manggarai Barat.

Kerusakan Meluas di Sejumlah Wilayah

BNPB mencatat kerusakan pada ratusan rumah akibat gempa tersebut. Hingga pukul 17.00 WIB, sebanyak 157 rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.

Selain rumah warga, gempa juga berdampak pada sejumlah fasilitas publik. Kerusakan tercatat pada 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, dan enam kantor.

BMKG mencatat gempa utama terjadi pada pukul 05.58 WITA. Pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Setelah gempa utama, BMKG mencatat puluhan gempa susulan. Hasil pemantauan menunjukkan sedikitnya 37 gempa susulan dengan magnitudo antara 3,7 hingga 6,2.

BNPB menyebut lima kepala keluarga terdampak di Kabupaten Nagekeo. Selain itu, sekitar 2.000 warga melakukan evakuasi setelah merasakan guncangan kuat dan menerima peringatan dini tsunami.

Di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, satu kepala keluarga atau enam jiwa juga tercatat terdampak. Sejumlah jalan mengalami longsor dan tertutup material, sedangkan sejumlah puskesmas ikut mengalami kerusakan.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan lima bandara terdampak dalam kejadian tersebut. Namun, kerusakan terjadi pada gedung terminal dan tidak mengenai landasan pacu.

“Lalu pelabuhan terdampak ada dua pelabuhan Reo di Manggarai dan Maumere,” ujar Suharyanto.

Data kerusakan yang telah teridentifikasi BNPB juga mencakup 54 rumah rusak berat. Kemudian, sembilan rumah rusak sedang dan 11 rumah mengalami kerusakan ringan.

Selain itu, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan ikut terdampak. BNPB juga mencatat satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan mengalami kerusakan.

Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup besar. Berton mengatakan 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan.

Di wilayah tersebut, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 23 rumah rusak berat.

Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan

Guncangan gempa terasa hingga sejumlah wilayah di luar NTT. Warga Kabupaten Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat merasakan gempa cukup kuat.

Baca Juga :  Prediksi Inggris vs Argentina: Debut Messi Lawan Three Lions

Guncangan juga terasa di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan turut merasakan getaran.

Di Nagekeo, petugas masih menangani dampak gempa. Kondisi jalan mengalami kemacetan dan aliran listrik masih padam.

BMKG sebelumnya menerbitkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi. Namun, lembaga tersebut kemudian mengakhiri peringatan tsunami setelah melakukan pemantauan kondisi laut.

Meski demikian, tsunami sempat terdeteksi di sejumlah lokasi. Di Bakalang, Alor, NTT, tercatat tsunami setinggi 0,14 meter pada pukul 05.41 WIB.

Di Dompu, NTB, ketinggian tsunami mencapai 0,17 meter. Sementara itu, Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka mencatat ketinggian air antara 0,19 hingga 0,36 meter.

Di Maurole, Ende, NTT, ketinggian air sempat mendekati satu meter. BMKG juga sempat menetapkan status siaga hingga waspada tsunami di sejumlah wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.

BMKG kemudian mengeluarkan rekomendasi evakuasi menyeluruh bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi risiko setelah gempa utama.

Warga Berhamburan Keluar Rumah

Guncangan kuat membuat warga di sejumlah daerah meninggalkan rumah. Sebagian warga memilih menuju perbukitan untuk mengantisipasi gempa susulan dan kemungkinan kenaikan air laut.

Jurnalis di Sikka, Arnold Welianto, menceritakan kepanikannya saat gempa terjadi. Ia langsung membawa anak dan keluarganya keluar rumah karena tempat tinggalnya berada dekat pantai.

“Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai,” ujar Arnold.

Setelah berada di luar, Arnold melihat warga lain bergerak menuju perbukitan dan memenuhi jalan raya. Situasi semakin membuat warga panik karena gempa susulan terus terjadi dan air laut sempat surut.

Pasien di sejumlah fasilitas kesehatan juga ikut dievakuasi ke luar bangunan. Selain itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara.

Kondisi serupa terjadi di Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Sejumlah warga berbondong-bondong menuju kawasan yang lebih tinggi untuk menghindari risiko gempa susulan dan tsunami.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada Gedung Universitas Katolik Indonesia atau Unika Ruteng. Sementara itu, warga di Kota Mataram, NTB, turut berhamburan ke jalan ketika merasakan guncangan.

“Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah,” kata Veronika, warga Mataram.

Warga lainnya, Adam, mengaku merasakan benda-benda di dalam kamar bergoyang ketika gempa berlangsung. Ia berharap kondisi di sekitar pusat gempa segera kembali aman.

Baca Juga :  Prabowo Dirikan Universitas Baru. Ini Fungsi dan Tujuannya!

Dua Korban Tewas di Pelabuhan Maumere

Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi sebelumnya melaporkan dua orang meninggal akibat tertimpa reruntuhan di Pelabuhan Laurentius Say.

“Yang satu ibu mau ke Kupang. Jadi kena runtuhan, meninggal. Satu lagi bapak pasien orang Adonara, sudah mau pulang di pelabuhan,” kata Simon.

Menurut Simon, Pelabuhan Laurentius Say menjadi salah satu lokasi dengan kerusakan paling parah. Sementara itu, pihak rumah sakit langsung mengevakuasi pasien ke area luar bangunan.

Petugas juga memasang tenda darurat untuk mendukung penanganan warga terdampak. BPBD dan dinas sosial ikut terlibat dalam proses tersebut.

Tim SAR Gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri kemudian mengevakuasi tiga orang terdampak gempa di Maumere. Mereka menerima laporan mengenai bangunan Pelabuhan Laurentius Say yang roboh saat gempa.

Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman mengatakan satu korban bernama Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun, meninggal dunia. Dua korban lainnya mengalami luka dan langsung mendapat penanganan di RSUD T.C. Hillers Maumere.

Tim SAR Gabungan juga bergerak menuju Kabupaten Nagekeo dan sejumlah lokasi lain yang terdampak. Sementara itu, pendataan korban terus berlangsung bersama BPBD setempat.

BMKG Ungkap Penyebab Gempa

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menjelaskan sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores.

Menurut Arief, aktivitas sesar tersebut memiliki kaitan dengan gempa yang pernah terjadi pada 1992. Karena itu, masyarakat perlu memahami potensi aktivitas seismik di wilayah tersebut.

“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.

BMKG kemudian meminta masyarakat menjauhi kawasan pesisir untuk sementara waktu. Imbauan tersebut tetap berlaku meski peringatan dini tsunami telah berakhir.

“Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” kata Arief.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama memastikan lembaganya telah mengakhiri peringatan tsunami. Namun, BMKG masih memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan.

Sementara itu, BNPB meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa.

Pemerintah bersama tim gabungan terus melakukan pendataan, evakuasi, dan penanganan di wilayah terdampak. Proses tersebut akan menentukan gambaran terbaru mengenai jumlah korban dan kerusakan akibat gempa NTT.

(ell/*)

Berita Terkait

Mau Umrah Tanpa Biro Travel? Ini Syarat dan Cara Daftar Mandiri
Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman
Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?
Kronologi Ledakan Rumah Mewah di Medan, 3 Orang Tewas
Prabowo Dirikan Universitas Baru. Ini Fungsi dan Tujuannya!
Profil Dody Hanggodo, Menteri PU yang Jadi Sorotan
BKN Izinkan ASN Naik Pangkat Melebihi Atasan
CPNS 2026 Kapan Dibuka? Ini Jadwal dan Syarat Terbarunya
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:34 WIB

Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:29 WIB

Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:56 WIB

Kronologi Ledakan Rumah Mewah di Medan, 3 Orang Tewas

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:30 WIB

Prabowo Dirikan Universitas Baru. Ini Fungsi dan Tujuannya!

Berita Terbaru