Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?

Empat sistem irigasi membantu petani mengatur pasokan air sesuai kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

sistem irigasi pertanian Indonesia

sistem irigasi pertanian Indonesia

Empat Sistem Irigasi yang Banyak Digunakan

Oketrends.com — Irigasi memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan air bagi tanaman. Terlebih, kebutuhan tersebut semakin penting pada wilayah dengan curah hujan yang tidak menentu. Karena itu, petani membutuhkan sistem pengairan yang sesuai kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Saat ini, terdapat beberapa sistem irigasi yang umum digunakan dalam kegiatan pertanian.

Sistem tersebut mencakup irigasi pancaran atau sprinkler irrigation system. Selain itu, petani juga menggunakan irigasi tetes atau drip irrigation system. Sementara itu, irigasi bawah permukaan menggunakan teknik subsurface irrigation system. Adapun irigasi permukaan mengandalkan surface irrigation system untuk mengalirkan air melalui lahan.

1. Irigasi Pancaran

Sistem irigasi pancaran bekerja dengan menyemprotkan air menyerupai hujan melalui nozel atau sprayer. Perangkat tersebut terpasang pada pipa atau tiang yang mengalirkan air ke area tanaman. Kemudian, air keluar dalam bentuk butiran kecil dan menyebar pada permukaan tanah. Sistem ini cocok untuk berbagai tanaman dan dapat digunakan pada lahan dengan kemiringan tertentu.

Namun, sprinkler membutuhkan tekanan air yang cukup tinggi agar dapat bekerja secara optimal. Selain itu, kondisi angin dapat mengganggu penyebaran air pada lahan. Akibatnya, distribusi air bisa menjadi kurang merata. Karena itu, petani perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum menggunakan sistem tersebut.

Baca Juga :  Cara Kerja Bot Media Sosial dan Dampaknya bagi Pengguna

2. Irigasi Tetes

Berbeda dari sprinkler, irigasi tetes mengalirkan air secara perlahan menuju akar tanaman. Sistem ini menggunakan pipa atau selang yang memiliki lubang kecil untuk mengatur aliran air. Dengan cara tersebut, air hanya membasahi area yang berada di sekitar akar tanaman. Sistem ini juga cocok bagi tanaman yang membutuhkan kelembapan secara konstan.

Selain menghemat air, irigasi tetes dapat mengurangi risiko pertumbuhan gulma. Pasalnya, sistem tersebut tidak membasahi seluruh permukaan tanah. Meski begitu, pemasangan awal membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Selang dan pipa juga dapat tersumbat apabila petani menggunakan air dengan kualitas kurang baik.

3. Irigasi Bawah Permukaan

Irigasi bawah permukaan mengalirkan air melalui pipa atau saluran yang berada di bawah tanah. Teknik tersebut membantu mengarahkan air langsung menuju area perakaran tanaman. Dengan demikian, sistem ini dapat mengurangi kehilangan air akibat penguapan. Distribusi air juga dapat berlangsung lebih merata dan efisien.

Meski memiliki keunggulan tersebut, sistem bawah permukaan membutuhkan perencanaan yang cermat. Petani juga harus menyiapkan biaya awal yang cukup tinggi untuk memasangnya. Selain itu, teknik ini tidak cocok untuk semua kondisi tanah. Karena itu, karakteristik lahan menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum pemasangan.

4. Irigasi Permukaan

Irigasi permukaan memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air di atas permukaan tanah. Petani dapat menerapkan sistem tersebut melalui irigasi banjir maupun irigasi furrow atau saluran alur. Sistem ini memiliki biaya pemasangan yang relatif rendah. Selain itu, irigasi permukaan cocok untuk lahan datar dengan sistem drainase yang baik.

Baca Juga :  Arda Guler Mandul, Turki Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Namun, sistem tersebut memiliki tingkat efisiensi penggunaan air yang lebih rendah. Sebagian air dapat hilang melalui proses penguapan dan infiltrasi ke dalam tanah. Sistem ini juga kurang sesuai untuk lahan dengan kondisi topografi yang tidak merata. Oleh sebab itu, petani perlu menyesuaikan penggunaannya dengan karakteristik lahan.

Pemilihan Sistem Perlu Menyesuaikan Kondisi Lahan

Setiap sistem irigasi memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Karena itu, petani perlu mempertimbangkan jenis tanaman sebelum menentukan sistem pengairan. Kondisi topografi lahan juga menjadi faktor penting dalam proses pemilihan. Selain itu, ketersediaan sumber daya air turut menentukan sistem yang paling sesuai.

Pemilihan sistem yang tepat dapat membantu petani meningkatkan produktivitas lahan. Pada saat yang sama, penggunaan air dapat berlangsung lebih hemat dan terarah. Sistem yang sesuai juga dapat mendukung penerapan praktik pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, irigasi yang efisien turut mendukung upaya pelestarian lingkungan menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

(el/*)

Berita Terkait

Mau Umrah Tanpa Biro Travel? Ini Syarat dan Cara Daftar Mandiri
Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman
Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi
Kronologi Ledakan Rumah Mewah di Medan, 3 Orang Tewas
Prabowo Dirikan Universitas Baru. Ini Fungsi dan Tujuannya!
Profil Dody Hanggodo, Menteri PU yang Jadi Sorotan
BKN Izinkan ASN Naik Pangkat Melebihi Atasan
CPNS 2026 Kapan Dibuka? Ini Jadwal dan Syarat Terbarunya
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:34 WIB

Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Tegaskan Kabut Kerinci Bukan Kiriman

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Mengenal 4 Sistem Irigasi Pertanian, Mana yang Paling Efisien?

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:29 WIB

Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:56 WIB

Kronologi Ledakan Rumah Mewah di Medan, 3 Orang Tewas

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:30 WIB

Prabowo Dirikan Universitas Baru. Ini Fungsi dan Tujuannya!

Berita Terbaru